Pages

Selasa, 23 Agustus 2016

Kisah 3 Baris

Kelak, aku ingin kita berdebat
Tentang jawaban yang masing-masing kita yakini paling tepat
Atas tanya dari bocah kecil bermata bulat

"Siapa yang dulu pertama kali menaruh hati, Ayah atau Ibu?"
Kamu mengatakan itu aku
Tapi aku mengatakan itu kamu

Lalu kita saling bersikukuh
Saling menuding dengan gaduh
Dan saling menunjuk dengan ricuh

Namun tak lama perdebatan kita luruh
Bersama derai tawa yang jatuh
Siapa peduli tentang hati siapa yang lebih dulu jatuh?

"Nak, tak ada hati yang jatuh lebih dulu
Karena masing-masing hati mau saling menunggu
Hingga sama-sama yakin untuk menjatuhkan diri tanpa ragu."

Sabtu, 13 Agustus 2016

Chapter 4

Dalam serial animasi Spongebob Squarepants, ada satu episode yang isinya menceritakan tentang Spongebob yang ingin hidup di alam liar jauh dari manusia, eh, ikan dan makhluk laut lain lebih tepatnya. Dia ninggalin semuanya. Rumahnya, pekerjaannya, temennya, keluarganya, bahkan bajunya. Dia hidup di alam liar bersama ubur-ubur. Tidur di pasir, makan rumput, juga berkeliaran tanpa baju. Jauh dari kerumunan masyarakat. Dan sumpah, saat ini, aku pengen banget ngelakuin itu. Bukan, aku bukan pengen bertelanjang ria makan rumput dan tiduran di pasir, yakali, otakku belum segeser itu. Maksudku saat ini aku pengen hidup menjauh dari manusia, mengasingkan diri hidup bareng sapi Wagyu yang kalau kulapar bisa dijadiin steak.

Aku ngga mau hidup bareng Kak Kinan lagi, juga ngga mau ketemu Mas Angga ataupun Mas Rama. Ngga setelah aib memalukan yang sungguh bikin aku pengen menggadaikan mukaku di penggadaian. Sayang mukaku ngga bersertifikat. Kurang berharga pula.

Semua berawal dari siang tadi. Seperti yang sudah direncanakan, aku, Kak Kinan, Rama, dan Mas Angga pergi menonton bioskop. Kami berangkat dari rumah sekitar habis Dzuhur naik mobil kodok klasik Mas Angga. Konon katanya, Mas Angga ini suka barang antik, makanya mobilnya antik. Masuk akal, pantas dia suka Kak Kinan.

Posisi duduk dalam mobil sudah bisa ditebak. Mas Angga menyetir, Kak Kinan di depan, aku dan Mas Rama di belakang. Sepanjang perjalanan, Kak Kinan dan Mas Angga ngga berhenti membuat kampanye terselebung mempromosikan aku pada Mas Rama, dan juga sebaliknya.

"Binar ini suka nulis lho, Ram, dia pengen jadi penulis." Kata Kak Kinan.

"O ya?"

"Iya. Dia suka nulis-nulis cerita terus diposting di Wattpad atau Wordpress dia. Bagus ceritanya, genrenya romance ya Bin? Pembacanya udah lumayan banyak lho."

"Wah, kreatif ya Binar."

"Selain suka nulis, dia juga suka masak Ram, bikin kue terutama. Kamu harus nyobain nastar bikinan dia, sumpah, enak banget!"

Kak Kinan terus menceritakan tentang aku layaknya mbak-mbak di iklan home shopping sedang mempromosikan panci tekanan tinggi keluaran terbaru. Aku cuma diem sambil sesekali menimpali dengan cengiran. Sumpah, canggung banget. Tengsin.

"Eh iya, kita ini mau nonton apa sih Kak?" Tanyaku mencoba mengalihkan isu yang sedang beredar.

"Mm, apa ya, bentar aku liat jadwalnya," Kak Kinan mengeluarkan hapenya, mengecek jam tayang bioskop secara online, "Wah, Conjuring 2 jamnya deket nih. Nonton itu aja yah?"

Mampus.

Bukannya aku penakut, hanya saja sebagai calon penulis, aku punya daya ingat dan imajinasi yang cukup tinggi, makanya sebisa mungkin aku menjauhi hal-hal yang bersifat horor. Dulu, aku pernah nangis di Mall, di toko boneka lebih tepatnya, karena malem sebelumnya aku habis nonton Chucky, si boneka setan saus tartar. Gara-gara dia, aku jadi takut kalau ternyata semua boneka di sana hidup, lalu mengeroyokku rame-rame. Aku juga pernah selama beberapa hari ngga nonton tivi dan nyentuh laptop karena aku takut Sadako keluar dari layar setelah nonton filmnya. Iya, imajinasiku setinggi itu.

"Kalau Now You See Me gimana, Nan?"

Baru aku membuka mulut ingin protes minta film lain aja, Mas Rama buka suara.

"Coba cek yah. Mmm.. Ada nih, jamnya juga deket. Mau nonton itu Ram?"

"Iya, gue penasaran sama itu."

"Oke deh, Now You See Me. Yang lain gimana, setuju?"

"SETUJUUUUUUUU!!!" Aku berseru dengan lantang. Duh, ingin rasanya menganugerahi piagam penghargaan sebagai tanda terima kasih ke Mas Rama. Mas Rama penyelamatku!

Di bioskop, antrean ngga terlalu rame, cenderung agak sepi. Mungkin karena udah masuk minggu-minggu akhir dari awal penayangan dua film happening itu. Kami datang mepet, pas banget sama jam tayangnya. Kak Kinan langsung buru-buru beli tiket plus pop corn, dan ngga lama tiket sudah ada di tangan.

"Kak, aku mau pipis dulu.." Kataku yang tiba-tiba saja kepengen pipis.

"Ya udah, pegang nih tiketnya. Kita masuk duluan yah, udah mulai soalnya. Studionya yang sebelah loket. Kita duduk di C 10 sampai 14, pinggir jalan kok."

"Oke!"

Aku menyambar tiket yang disodorkan Kak Kinan dan segera melesat ke kamar mandi. Setelah tuntas menyelesaikan tugas duniawi, aku bergegas menuju studio yang letaknya di kanan loket. Mbak-mbak yang bertugas di pintu merobek tiketku dan mengantarku masuk. Di dalam sudah gelap dan film sudah mulai. Sambil memicingkan mata mencoba melihat dalam gelap, aku mencari tempat dudukku. Aha, ketemu, ini dia C 10, tepat di pinggir. Aku duduk dan mulai menonton sambil sesekali meraup pop corn di sebelahku. Entah siapa sebelahku, gelap, aku ngga bisa lihat.

Semakin lama kutonton, entah kenapa kayaknya kerasa aneh. Dari trailer yang kulihat perasaan Now You See Me ngga begini ceritanya. Seingatku filmnya tentang sulap-sulapan. Kenapa ini malah tentang anak kerasukan?? Dan... KENAPA LAMA-LAMA SEREM????

"Ini kok aneh sih ceritanya, kenapa serem?" Aku berbisik ke sebelahku.

"Eh? Emang Conjuring serem kan?" Terdengar suara lelaki di sebelahku menjawab.

Conjuring? Sebelahku kenapa suaranya asing ya? Aku mengambil hape, menyalakannya dan mengarahkan cahayanya ke sebelahku. Di sebelahku nampak lelaki yang wajahnya asing bagiku. Aku melongo.

"Eh... Ini... Bukan.. Now You See Me..?"

"Bukan, ini Conjuring Mbak."

Mampus.

Aku menelan dengan berat pop corn yang sedari tadi kukunyah.

Senin, 08 Agustus 2016

Rindu Entah Keberapa

Rindu datang melulu
Dari Senin hingga Minggu
Singgah tak kenal waktu

Rindu berkepala batu
Diminta pergi tidak mau
Dimohon lenyap dia membeku
Perihal letih dia tidak tahu
Yang dia tahu hanya satu
Dia tidak ragu menunggu
Selama itu untuk temu
Selama itu untuk kamu

(Serpong, 13 Agustus 2016)

Jumat, 05 Agustus 2016

Khusus Dewasa

Selain di hadapan rindu, aku juga lemah di hadapan kata gratis, diskon, dan murah. Seperti hari kemarin. Ngga sengaja liat postingan tentang komik second kondisi mulus harga miring barang ready minat ping me. Tiba-tiba aku hilang kesadaran begitu saja, macam korban hipnotis Uya Kuya dikasih liat api. Ketika kesadaranku kembali aku sudah ada di depan atm, tangan satu memegang kertas struk bukti pembayaran, tangan satu mengetik watsap yang bertuliskan "sudah transfer ya sis buat komiknya." Ah, aku lemah.

Selang berapa hari dari itu, paket komikku pun tiba di kantor. Dua bungkus paket yang dikemas dengan pembungkus masing-masing berwarna pink dan biru. Sengaja memang kubeli banyak, mumpung murah. Dengan tak sabar, proses unboxing pun segera kulakukan. Kuambil salah satu paket, robek kertas pembungkus, gunting lakban yang menempel, lalu mengeluarkan isinya. Melihat komik-komik bertebaran, sebut saja Cebong, teman seruanganku, mengambil satu komik dan membacanya, sementara aku masih sibuk membuka bungkusan paket satu lagi.

"Kak Sita, Kak Sita liat deh!!" tiba-tiba Cebong dengan histeris memperlihatkan komik yang terbuka padaku, "Masa baru aku buka isinya udah tweweew!!"

"ASERIUS???"

Aku melihat komik yang disorongkan Cebong ke arahku. Di panelnya nampak gambar adegan yang sering kulihat dalam brosur posyandu milik Mamaku yang bertemakan asi eksklusif. Bedanya, tidak ada bayi di komik ini. Orang dewasa semua.

"WAIYAAAKK!! ISINYA TWEWEEW!!" Ujarku ikut histeris.

Kami pun membuka-buka komik lain. Hasilnya, hampir sebagian besar komik mengandung muatan dewasa. Yakinlah, kalau dibaca bocah di bawah umur dan ketauan Emaknya, pasti langsung disunat di tempat. Sumpah, aku ngga sadar kalau yang aku beli adalah komik dengan rating 17+, aku kira cuma serial cantik biasa. Coba kalau aku tau, aku ngga akan beli..

..dikit, yang banyak sekalian. Eh..

Aku memilah-milah komik, menyeleksi dan membaginya menjadi dua tumpukan. Satu tumpukan untuk yang aman dikonsumsi siapa saja, satu tumpukan lagi khusus untuk mereka yang butuh edukasi pra menikah.

"Aku ambil yang ini," aku menunjuk tumpukan sebelah kiri yang aman dikonsumsi, "yang ini diapain ya?"

Aku dilema. Dibuang sayang, penasaran. Disimpen di rumah, aku masih mau dianggap anak sama Mamah. Disimpen di kantor, aku ngga mau dipecat secara ngga baik.

"Aku buang aja apa ya?"

"JANGAN KAK SITA, AKU MAU BACAAAAA!!!" Cebong memekik, lalu mengambil satu komik dari tumpukan sebelah kanan, "Jangan ganggu aku ya, aku mau baca dulu, hiburan, biar ngga kayak orang kurang piknik."

Dia pun anteng di mejanya, membaca komik. Atau lebih tepatnya melihat-lihat gambar, karena yang dia lakukan hanya membuka-buka halaman dengan cepat sambil bergumam pelan, "mana lagi sih twewewnya.."

Yassalam si Cebong..

Sementara Cebong khusyuk "membaca", aku menelepon Incess, temanku di lantai 4, menceritakan perihal kedatangan komikku.

"Ncess, tau ngga, masa kan aku beli komik, eh aku ngga tau, ternyata isinya ada twewewnya."

"IYAKAH? MAU BACAAAA!!!"

Gubrak

"PINJEEEEEEMM!!!"

Suara Incess dari balik telepon terdengar penuh semangat, percis suara para wota neriakin nama oshinya pas lagi manggung dengan rok pendek berkibar-kibar.

"Pinjem pokoknya! Nanti aku turun yah."

Suara Incess hilang, digantikan suara tut tut dari telepon. Dan bener aja. Menjelang jam pulang, Incess turun, masuk ke ruanganku dengan menggebu-gebu, nodong minta komik, duduk di pojokan, dan anteng baca komik sampai pulang kerja. Tipe wanita idaman banget nih, sama komik aja serius, apalagi sama komikmen yang udah dibikin berdua kan.. #promointemen

Selain Incess, banyak lagi orang-orang yang datang ke ruanganku dengan modus pengen minjem komik. Di antaranya sebut saja Emak dan Bundo. Sekilas info, isi kolom status di KTP mereka beda dengan punyaku. KTP mereka bagian status terisi "kawin", punyaku  isinya masih "coming soon".

Mereka berdua ini paling rusuh, karena yang mereka lakukan bukan duduk manis membaca dengan tenang seperti Cebong atau Incess. Bukan, sodara-sodara, bukan. Yang mereka lakukan adalah membaca dialog adegan twewew dalam komik dengan penuh penghayatan. Lengkap dengan desahannya. Berasa video kenangan Ariel - Luna Maya dijadikan sandiwara radio dengan mereka berdua sebagai pengisi suara.

"Ah, Takeru, aaahh.." Emak membaca dengan nada suara mendesah-desah kayak habis makan maicih level 10.

"Aku mencintaimu, aaahh.." Bundo ikut membaca, membalas dialog Emak dengan desahan serupa.

"Apaan, pas ngelakuin aja tu bilang aku cinta kamu, aku cinta kamu!"

"Tau, kalau udah dapet maunya mah udah tuh, kita dicuekin!"

"Iya, laki gue tuh gitu!"

"Sama, laki gue juga!"

Ya Tuhanku, mereka malah berlanjut curhat masalah intern rumah tangga. Dasar wanita-wanita di kantorku karbet semua..

Jumat, 29 Juli 2016

Chapter 3

"Ya ampun Bin, belum siap-siap kamu??"

Aku menoleh, mendapati Kak Kinan berkacak pinggang memandangiku sebal. Penampilannya sudah berbeda. Lebih rapi dan manusiawi. Tidak seawut-awutan tadi pagi. Piyama buluk bergambar semangka kebangsaannya sudah tergantikan baju terusan panjang di bawah lutut. Bibir yang sebelumnya mengkilap karena makan gorengan berminyak sekarang gemerlap karena lipgloss. Belek di matanya juga sudah hilang, kini yang ada eyeliner. Sudah instagramable dengan hestek #OOTD banget pokoknya.

Sedangkan aku masih leha-leha selonjoran di sofa nonton ftv bareng Ibu. Masih dengan rambut yang kuuntel sembarangan, baju Bali gombrong bergambar barong yang sudah lusuh, bolong pula di bagian ketiak, plus aksesoris berupa handuk yang entah dari kapan kukalungkan di leher. Instagramable juga. Cuman hesteknya #GOTD. Gembel Of The Day.

"Iya, bentar lagi, nanggung Kak, lagi seru." Aku mengalihkan lagi mataku ke arah tivi, melanjutkan ftv yang sedari tadi kutonton.

"Apaan, dari tadi bentar lagi, bentar lagi mulu! Liat tuh udah jam segini, bentar lagi Angga dateng ngejemput, buruaaan!!" Seru Kak Kinan dengan frekuensi suara yang meninggi.

"Aduh Kinan, jangan teriak-teriakan dong, ngga kedengeran kan, lagi seru nih! Si cewek jahat mau kepergok lagi selingkuh tuh." Protes Ibu yang sedari tadi khusyuk di sebelahku sambil sesekali berkomentar ke arah tivi.

"Rasain, emang enak ketahuan!" Serunya puas melihat adegan si lelaki memergoki si wanita sedang bermesraan dengan lelaki lain.

"Tauk, emang enak! Putusin aja tu langsung, putusin!" Timpalku membalas celotehan Ibu.

Kak Kinan mendengus sebal, melenggang pergi ke arah kamarnya sambil menggerutu, "Dasar Ibu sama anak sama aja!"

***

Tok tok tok!

"Assalamualaikum."

Terdengar suara salam diiringi ketukan pintu.

"Bu, ada tamu tuh, buka Bu." Kataku yang kemudian dibalas dengan satu toyoran kecil di kepala.

"Lah ya kamu lah yang buka, masa kamu nyuruh ibu!"

"Duh, aku lagi nanggung, Bu."

"Lah ya sama! Bukain cepet, dia ngetok lagi tuh!"

"Ibu ajalah.."

"Eh, Ibu kutuk jomlo seumur hidup mau?"

"Atulah, Ibu mah.." Aku memanyunkan bibirku.

"Mau selfie kamu itu pasang duck face?"

"INI MANYUN BU, MANYUUUUUN!!"

Ibu tertawa puas melihatku. Tahulah aku bakat meledek Kak Kinan diturunkan dari siapa.

Dengan ogah-ogahan aku bangkit dari duduk dan berjalan ke arah pintu depan. Duh, tiba-tiba saja ketiakku terasa gatal. Sembari sebelah tangan menggaruk ketiak, sebelah tanganku membuka pintu. Pintu terbuka. Di depanku berdiri seorang lelaki tak kukenal dengan tubuh tinggi. Di belakangnya berdiri lagi seorang lelaki dengan wajah familiar.

"Hai Bin!" Sapa Mas Angga, "Kinan ada?"

Aku mematung kaku. Masih dengan satu tangan di ketiak. Masih dengan rambut awut-awutan. Masih dengan wajah kucel belum tersentuh air. Masih dengan outfitku yang bertemakan gembel of the day. Sedangkan di depanku berdiri lelaki dengan wajah yang dibilang jelek ngga, dibilang manis iya. Meski bergaya kasual hanya dengan kaus berkerah dan jeans, namun tampak trendi dan sesuai. Selintas wangi yang menguar dari tubuhnya mampir ke hidungku. Aku membatu.

"Mm.. Binar? Kinan ada?" Mas Angga mengulang pertanyaannya, mengembalikan kesadaranku.

"Eh iya, Mas, ehehe.. Ng.. Ada kok, masuk aja dulu, masuk, ehehe, nanti aku panggilin, hehe.."

Aku mempersilahkan Mas Angga dan Mas Manis satu lagi masuk. Sementara mereka menghampiri dan memberi salam pada Ibu, aku melesat masuk ke kamar Kak Kinan lalu menutup pintunya.

"Heh, kenapa kamu? Ngagetin aja!" Kata Kak Kinan.

"Huwaaaa, Kak Kinan kenapa ngga bilang kalau teman Kak Angga kece???? Kenapa ngga bilang kalau Kak Angga sama dia mau datang ke sini???? Kenapa ngga nyuruh aku siapa-siap dandan yang cantik????? Kenapa Kak, kenapaaaa?????"

Aku guling-gulingan di atas kasur Kak Kinan, membuat kasurnya yang sudah rapi jadi berantakan lagi. Duh Gusti, terlihat memalukan di hadapan lelaki kece, rasanya aku ingin hilang ditelan jamban saja...

"Oh, Angga udah datang ya? Lah kan tadi aku udah bilang kalau temennya Angga itu manis. Aku juga udah bilang kalau bentar lagi dia mau datang jemput ke sini. Udah dari tadi juga aku suruh siap-siap. Bagian mananya yang aku ngga bilang??"

Aku terdiam, bergulung dalam selimut. Iya juga sih, rasanya Kak Kinan udah bilang semuanya dari tadi.

"Makanya kalau aku bilangin tuh mbok ya nurut gitu lho. Sekarang buruan deh siap-siap. Jangan lama-lama, kasian kalau pada nunggu kelamaan. Buruan ayooo.." Kak Kinan menarik paksa selimut lalu menyeret tanganku memaksaku bangun.

"Habis mandi jangan lupa kasurku diberesin lagi."

"..."

Aku mandi secepatnya dan berdandan sekadarnya, bercelana jeans dan kaus rajut (Kak Kinan neriakin terus suruh cepet-cepet, gimana aku bisa khusyuk berlama-lama???). Peduli amat lah, toh penampilan terburukku sudah terlihat, yang bagaimanapun pasti terlihat lebih baik. Aku berkaca sekali lagi, mematut-matut diri di depan cermin. Mendingan, ngga nampak macam gembel habis kena gusur satpol pp lagi.

"Hei, sudah siap kamu Bin?" Kata Mas Angga ketika melihatku menghampiri mereka yang sedang ngobrol sama Ibu di ruang tamu.

"Ehehe, iya udah Mas."

"Oiya, kenalin Bin, ini teman Mas, namanya Rama. Ram, ini Binar, adek Kinan."

Mas manis bangun dari duduknya dan menyalamiku. Duh, sudah manis sopan pula. Aku membalas genggam tangannya dengan agak kikuk.

"Ng.., Binar. Nama panjangnya bukan Binaragawan, apalagi Binaria."

Krik.

Iya, garing, aku tau. Kan biar mencairkan suasana, namanya juga usaha.

"Rama.." Dia membuka suara, "Nama panjangnya bukan Ramayana, apalagi Ramatamah."

Tanpa bisa kutahan, aku tertawa mendengar ucapannya. Melihatku tertawa, tawanya ikut terlepas. Tawa yang merdu sekali. Dan aku suka mendengarnya.

Bersambung lagi, lanjut nanti.

Kamis, 21 Juli 2016

Masih Ada

Kamu tak pernah benar-benar pergi
Karena di jalanan yang dulu sering kita lewati
Dan di setiap tempat yang pernah kita singgahi
Masih berbekas jejak-jejak kaki
Milik kenangan yang kerap berlari-lari

(Cikini, 21 Juli 2016)

Jumat, 01 Juli 2016

Chapter 2

Bagiku, kesuksesan adalah kata yang tidak memiliki definisi mutlak. Kesuksesan memiliki arti yang relatif, maknanya tidak sama bagi semua orang. Tiap orang memiliki kaca mata berbeda dalam melihat kesuksesan.

Ada yang beranggapan sukses adalah berhasil hidup dari hasil keringat dan jerih payahnya sendiri tanpa bergantung pada orang tua. Sementara bagi mereka yang berasal dari desa dan mencoba mengadu nasib ke ibu kota, bisa jadi tolak ukur kesuksesan bagi mereka adalah ketika mereka mampu memberi kiriman materi pada keluarga di kampung secara rutin yang kemudian digunakan untuk merenovasi rumah dan membeli sawah. Atau bagi mereka yang bermasalah dengan berat badan berlebih, penurunan berat badan yang signifikan sungguhlah suatu kesuksesan yang besar.

Sementara bagiku, sukses bermakna sederhana saja, cukup berhasil bangun pagi di hari minggu tanpa kelewatan nonton Doraemon. Seperti hari ini. Aku sudah duduk manis menghadap tivi yang sedang menampakan wajah menangis Nobita dengan air mata memancur-mancur seperti air semprotan selang. Di tanganku semangkuk mi kari ayam dengan telur, sawi, dan rawit tampak mengepul-ngepul, menghantarkan wangi kari ayam yang khas.

"Wiii, wangi banget bagi dong!"

Kak Kinan tiba-tiba saja sudah ada di sebelahku, tangannya siap mengambil sendok dalam mangkuk. Kujauhkan mangkuk dari hadapannya.

"Bikin sendiri gih!"

"Hih, pelit banget, dikit doang!"

Aku menjulurkan lidah. Kusendok mi, menyeruputnya keras dengan wajah nikmat sambil memejamkan mata.

"Hmmm, sadis!" Kataku mencoba menirukan Al seperti iklannya di tivi.

"Pelit! Orang pelit jodohnya sulit lho!"

Aku mendengus.

"Ah mainannya jodoh melulu nih mentang-mentang udah punya gandengan. Sombong!"

Kak Kinan tertawa seraya mengambil mangkuk dari tanganku lalu menyeruput isinya.

"Kemarin gimana Kak? Lancar?" Tanyaku pada Kak Kinan.

Kak Kinan menggeleng dengan mulut penuh, lalu menelan masuk mi ke dalam kerongkongan sebelum menjawabku.

"Ngga lancar, Bin."

"Lho? Kenapa kak?"

"Macet. Ya malam minggu tahu sendiri jalanan gimana. Ngga ada lancar-lancarnya."

"Hish! Bukan jalanannya! Kencan Kak Kinan sama Mas Angga maksudku, lancar ngga?" Ujarku sebal. Mas Angga adalah lelaki yang sedang dekat dengan Kak Kinan akhir-akhir ini. Sejauh yang kuingat, kedekatan mereka sudah berlangsung kurang lebih dua bulan. Mas Angga sudah dua kali ke sini mengantarkan Kak Kinan pulang. Sudah ketemu juga dengan Ayah dan Ibu. Tapi kayaknya belum pacaran, karena terakhir kutanya minggu lalu Kak Kinan bilang Mas Angga belum nembak dia. Entah ya, mungkin segera.

"Ya lagian nanyanya gitu, ngga spesifik. Untung ngga kujawab 'ngga lancar, udah tiga hari keras, kurang makan sayur'."

Aku istighfar. Sepertinya dulu ketika sedang hamil Kak Kinan, Ibu sering ngidam makan daging-dagingan hingga hasilnya punya anak yang sering bikin darah tinggi.

"Auk, bodo amat! Ngga jadi nanya lah!" Kataku sebal sambil melipat tangan di dada.

"Ehehe, bejanda, lancar kok Dek, semalem kita candle light dinner." Jawab Kak Kinan sehabis mengeluarkan suara seruput keras.

"Woaaa, serius? Di mana?" Aku terperangah. Keren banget. Aku membayangkan makan malam di restoran yang letaknya tinggi, paling tidak di lantai 10. Duduk di dekat jendela, menikmati pemandangan kota malam hari yang dihiasi terangnya titik-titik lampu di tengah hamparan gelap. Cahaya lilin di tengah meja yang bersinar temaram menemani santap malam yang datang dalam tiga bagian. Appetizer, main course, dan dessert. Ah, aku jadi sedikit iri.

"Di pecel ayam pinggir jalan. Ada lalat beterbangan, jadi dipasang lilin buat ngusir lalat."

Prang. Suara khayalan dalam kepala yang pecah berkeping-keping.

"Meh. Bodo amat Kak, bodooooo!"

Tawa cekikikan Kak Kinan membahana memenuhi udara melihat wajahku yang menampakan rasa sebal dalam dosis tinggi. Hih, gemas sekali aku dengan kakakku yang satu ini!

"Eh iya tau ngga sih, Dek.." Kak Kinan menggantungkan kata-katanya, menciptakan efek misterius yang bikin penasaran.

"Apaan?" Aku menjawab galak.

Kak Kinan diam, menelan mi sebelum kembali berkata-kata.

"Kemaren sebelum makan, Angga mampir ketemuan dulu sama temennya sebentar. Ya Allah dek, temennya Masya Allah.. Kayak permen karet pas awal dikunyah, manis bener!"

Kak Kinan menyuap mi lagi sebelum kembali bercerita dengan bersemangat.

"Kayaknya baik lagi. Dan yang paling penting pas Kakak tanyain, dia jomlo, Dek! Available! Lowongan tersedia!"

Kayaknya aku tahu arah pembicaraan ini ke mana.

"Hooo, terus?"

"Nah, terus..," Kak Kinan tersenyum penuh makna ke arahku, "Nanti siang aku sama Angga mau nonton. Temennya itu juga ikut. Dan sama kamu juga. Ikut ya nanti."

"Hah?"

"Nanti siang kok, santai aja dulu nonton Doraemon sambil minya dihabisin. Dah ah, aku mau mandi dulu."

Kak Kinan menyerahkan mangkuk mi ke tanganku, lalu beranjak dari duduk. Aku menengok isi mangkukku. Isinya tinggal genangan kuah dan sawi yang berenang-renang.

Kakak saus tartar.

Bersambung lagi. Ngantuk saya.