Pages

Selasa, 10 Desember 2019

Mereka Sudah Tau

Dia sudah tau.

Sebelum kalian bilang perutnya nampak makin membuncit pun dia sudah tau. Dia bisa merasakan, entah dari celana yang biasa digunakan jadi lebih menyempit, atau sejelas jarum timbangan yang makin bergeser ke kanan ketika menimbang. Dia sudah tau itu.

Waktu kalian sampaikan mukanya nampak parah dengan jerawat yang bertebaran pun dia sudah tau. Kan dia yang merasakan kedut-kedut nyerinya waktu mereka masih calon jerawat menuju matang.

Setiap harinya ngga pernah absen mereka bercermin. Tentu semua terlihat. Dagu yang nampak makin berlipat-lipat. Gundukan daging yang menebal di perut dan pinggang. Noda-noda kehitaman bekas jerawat mengisi area wajah yang tadinya bersih. Pun dengan kontras warna kulit yang menggelap di area tak tertutup pakaian. Terlihat dan terasa sendiri oleh mereka, tak luput dari indera.

Mereka sudah tau, sejelas matahari di terik siang, seterang itu semua tertampak dalam pandang. Maka diam saja, tak usah berkomentar. Simpan semua kata, biarkan hanya terucap dalam kepala, karena informasi kalian tidak berguna. Mungkin lebih baik kalau kalian memberitahu fakta-fakta lain yang bisa jadi mereka belum tau. Seperti negara mana yang pertama kali menjalankan sistem pemerintahan monarki, atau bagaimana sistem pencernaan pada bintang laut bekerja.
Selasa, 03 Desember 2019
Hidup mulai terasa melelahkan. Sekadar melanjutkan napas hari demi hari pun rasanya berat. Pagi di mataku tak lebih dari sosok antagonis yang kedatangannya ingin kumaki-maki. Sialan, untuk apa datang lagi?
Sabtu, 04 Mei 2019

Balada Jam Tangan

Jam tangan keponakanku, Aya, ketinggalan saat kemarin liburan sekolah dia menginap di rumah. Baru ingat saat sudah di jalan pulang menuju rumahnya. Mau balik lagi sudah jauh. Mau dibiarkan saja tapi itu bukan jam tangan biasa. Smartwatch dengan harga lumayan, setara biaya kencan menu premium di Kintan Buffet. Dilengkapi dengan fitur telepon untuk Aya menelepon minta jemput kalau sudah pulang sekolah, karena di usianya yang baru 2 SD, dia masih belum diberikan kewenangan untuk punya hape sendiri. Plus dilengkapi GPS yang bisa memantau di mana Aya berada. Jadi kalau pada jam-jam pelajaran yang harusnya ada di kelas ternyata orangnya malah lagi di kantin makan indomie, Ibunya bisa tau. Tapi syukurlah selama ini ngga pernah terpantau begitu. Masih pelajar baik-baik.

Karena fungsinya yang begitu penting (dan harganya terutama. Mahal coy!) Emaknya Aya ngga rela kalau jamnya dibiarin gitu aja tertinggal. Aku sebagai seorang anak yang pernah mengalami beratnya tekanan batin dan mental karena meninggalkan barang yang dianggap penting bagi Ibunda (baca : tupperware), paham sekali bagaimana perasaan Aya saat itu, perasaan cemas yang dipicu oleh kekhawatiran bila nanti harus hidup sebagai penduduk warga negara tanpa status yang jelas karena tak terdaftar di kartu keluarga manapun. Kasihan sekali anak sekecil itu. Sebagai tante, aku ngga bisa tinggal diam.

Maka kukatakan pada Teteh supaya ngga usah khawatir. Kalem. Jangan bimbang jangan takut. Di sini Rosita hadir memberi solusi, bukan hanya janji. Kubilang biar jamnya nanti kupaketkan ke sana via JNE. Teteh pun setuju. Problem solved. Nasib seorang anak berhasil diselamatkan. Tinggal aku di sini kebingungan, wadahin jamnya pake apaan nih??

Awalnya, jamnya ingin kumasukan saja ke dalam pouch kain lalu langsung bungkus dengan kertas cokelat. Bahan seadanya yang ada di rumah. Tapi bentuk bungkusannya jadi meletoy-letoy, tidak rata, sulit ditulisi untuk alamat, dan rawan benturan pula. Aku butuh sesuatu yang kotak untuk wadah menyimpan jamnya. Aku pun berkeliling menggeledah isi rumah mencari wadah kotak yang bisa digunakan. Sempat terpikir untuk memakai wadah tupperware milik Mamaku, tapi nyaliku tidak setinggi itu untuk melakukan hal yang kelewat ekstrim. Maaf saja, aku bukan adrenaline junkie.

Sampai di kamar adik lelakiku, aku melihat sesuatu. Suatu barang terbungkus dengan kotak. Aha. Sebuah lampu menyala di atas kepalaku. Pakai ini saja. Masih ada isinya dan nampaknya masih baru, belum dibuka. Tapi ya sudahlah. Sebagai seorang kakak, tingkat hierarkiku di rumah ini tentu lebih tinggi daripada dia. Kalaupun nanti dia protes, bisa aku sogok dengan somay pengkolan. Aku pun mengeluarkan isinya dari kotak, memakai kotaknya untuk menyimpan jam, membungkus kotak dengan kertas cokelat, menuliskan alamat, lalu menyerahkannya ke JNE terdekat. Sempurna. Mission accomplished.

Esok siang, sebuah telepon dari Teteh masuk ke hapeku. Kuangkat, ternyata itu Aya.

"Uwo, makasih ya, jam tangan aya udah nyampe."

Meski hanya via suara, namun terasa olehku rasa terima kasih yang amat membuncah, mengaliri setiap kata yang keluar dari mulut Aya. Rasa terima kasih karena aku sudah membantu menyelamatkan hidupnya. Pahlawan memang tidak selalu berjubah, bisa jadi dia berdaster.

"Iya, sama-sama Aya. Alhamdulillah udah nyampe. Nanti hati-hati jangan ketinggalan lagi ya?"

"Iya Wo, tapi Wo.."

Hening sejenak dari seberang

"Wo, kok dibungkusnya pake kotak kolor sih? Kolor laki-laki lagi. Ih kan Aya kaget pas buka, ada gambarnya!"

Momen haru penuh syukur pecah digantikan suara tawaku membahana dan suara Aya di seberang bersungut-sungut. Iya, kotak yang kuambil dari kamar adikku adalah kotak kolornya yang baru dibelikan oleh Mamaku. Bergambar.. yah tau lah kotak kolor laki-laki gambar depannya apa!

Sabtu, 12 Januari 2019

Musim

Aku ingin bersama kamu pada setiap musim yang berjalan.

Pada musim hujan aku ingin berbagi hangat berdua dalam selimut sambil bergelungan.

Pada musim kemarau aku ingin bersama singgah di minimarket terdekat untuk membeli es krim kesukaan.

Pada musim kondangan aku ingin menghadiri setiap hajat kerabat mengenakan baju bermotif kembaran.

Intinya denganmu aku ingin terus bersisian, melewati satu demi satu musim yang terus bergantian.

(Serpong, 10 Januari 2019)

Senin, 27 Agustus 2018

Surat Untuk Kekasih Lagi

Halo lagi sayangku,

Kalau disuruh memilih antara musim hujan atau musim kemarau, dengan penuh keyakinan tanpa ragu, boleh dikunci jawabannya, aku akan memilih musim hujan. Bagiku musim hujan menyenangkan. Langit lebih teduh, aku ngga usah jalan sambil menyipit-nyipitkan mata lagi karena kesilauan. Udara juga lebih dingin, aku bebas dari biang keringat. Dan jangan lupa cinta dalam hidupku, mie instan, yang berkali-kali lebih nikmat disantap ketika sedang ramai hujan jatuh di atap. Aku suka musim hujan.

Namun musim hujan ngga sepenuhnya berisi hal yang kusenangkan saja. Ada juga sebelnya. Udara dingin bikin aku lebih sering pipis. Baru juga berapa menit lalu pipis, ngga lama udah mau pipis lagi. Belum lagi masalah sepatu basah yang bikin kaki lepek. Pakaian pun jadi sering kuyup. Mana jemuran susah kering. Pernah saking menirisnya stok baju karena masih pada basah, aku terpaksa mengiblatkan diri pada gaya fashion harajuku yang berkonsep tabrak warna alias pake aja apa yang ada. Kaos oren, jaket merah, celana biru, kerudung pink. Sekilas diliat orang mungkin aku disangka lagi cosplay jadi rainbow cake. Tapi bahkan dengan segala hal menyebalkan yang dibawanya, pendirianku ngga berubah. Aku tetap suka dengan musim hujan.

Hidup memang begitu, Tuhan ngga menciptakan hal-hal menyenangkan dengan komposisi 100% kesenangan. Pada hal yang paling kita senangi sekalipun, pasti ada aja yang bisa dikeluhkan di dalamnya. Pada akhirnya kita "dipaksa" berkompromi, berdamai dengan kekurangan untuk menerima seluruhnya dan menyenangi dengan seutuhnya.

Begitu pun dengan satu hubungan, ngga selalu sepenuhnya tentang bahagia. Jatuh cinta dengan segala rasa berbunga-bunga yang dibawanya ngga lantas menjadikannya lepas dari luka. Seperti yang saat ini sedang kita jalani. Kita saling berbagi senang, membuat memori yang mengundang senyum saat mengenang, dan menjadikan satu sama lain harinya lebih riang.  Tapi ada kalanya juga kita berbuat salah, menciptakan masalah, menjadikan pihak yang lain marah, sehingga hari itu terisi sedih yang tak sudah-sudah.

Kita ngga lepas dari kekurangan. Kita jauh dari sempurna untuk hanya mengenal bahagia. Kita ngga selalu baik-baik saja. Kita pernah menyakiti. Kita pernah mengecewakan. Kita pernah terluka. Kita pernah bersedih. Kita pernah tunduk pada ego. Kita pernah larut dalam emosi. Kita pernah dan nanti akan lagi.

Tapi ngga apa-apa.

Dengan segala hal menyebalkan yang pernah dan akan ada, pastikan rasa sayang kita akan selalu lebih besar dari semuanya. Sebagaimana pun mengesalkannya, denganmu selalu ada hal-hal menyenangkan yang masih ingin kurayakan keberadaannya. Dan pada akhirnya, ketika perasaan kita sedang dalam titik terbawahnya sekalipun, selalu akan ada jalan untuk kita kembali merasa baik-baik saja. Karena denganmu, aku selalu suka.

Salam sayang,

RJA

Surat Untuk Kekasih

Halo kamu di sana yang sedang sibuk-sibuknya, yang sebagian besar waktunya sedang banyak terpakai untuk menuntaskan tanggung jawab yang harus segera selesai, yang semakin kurus dan nampak lebih tirus karena pola makan dan tidur yang ngga keurus.

Kalau kamu lagi sibuk-sibuknya gini, aku ingin sekali ada di sana. Di deket kamu. Bantuin kamu. Berbagi beban tanggung jawab untuk ikut aku kerjakan sama-sama seandainya aku bisa. Dua lebih baik daripada satu kan? Kalaupun aku ngga bisa bantu, aku tetap ingin ada di sana nemenin kamu. Seduhin milo biar tetap semangat, pijitin pundak supaya lelahnya terangkat, dan ngasih peluk lama-lama sampai hilang semua penat.

Sayang sekali secara geografis kita kepisah jarak yang lumayan jauh, sampai 1344 km. Kamu bisa cek google map kalau ngga percaya. Tapi ngga usahlah, kamu sibuk, udah percaya aja sama aku.

Ngga papa kita jauh, karena dari jauh pun ada yang bisa kulakukan ketika harimu sedang sibuk-sibuknya. Mengirim doa misalnya, karena doa mampu menjangkau jauh melebihi jarak terjauh yang pernah tertempuh. Maka kini tak henti-henti aku mengirimi kamu doa, semoga apapun yang kamu kerjakan berbuah hasil yang baik. Semoga lelahmu sekarang nantinya bisa terbayar dengan manis. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Maka bersibuk rialah. Nikmati. Kerahkan seluruh kemampuan. Berlelah-lelahlah. Jangan khawatir, nanti kalau letih datangnya ngga bisa dikompromi, kamu selalu punya nomor untuk dihubungi. Kang pijit yang nomornya ditempel di tiang listrik tu. Hubungi aja, minta pijit. Pijit biasa tapi jangan yang plus plus. Awas aja. Pisau di dapur udah tajam tajam aku asah.

Atau kalau kamu ngga mau pijit, kamu selalu bisa hubungin aku. 19 jam selalu sedia menjawab panggilan kamu. 5 jamnya waktu aku tidur. Mungkin aku ngga bisa membantu banyak, tapi seengganya kamu ngga sendiri. Sebenernya aku pingin sekali bisa beratraksi macam para penampil sirkus, jadi tiap kamu rasa suntuk aku bisa akrobat udara, juggling bola, lompat lingkaran api, atau meloloskan diri dari mulut buaya (yang sering bilang "aku ngerasa gini cuma sama kamu doang", padahal ke semua cewek bilang begitu) biar suntuknya hilang dan kembali senang. Sayang sekali aku ngga bisa. Tapi aku selalu bisa menyediakan telinga untuk kamu cerita dan sambat sepuasnya soal apapun.

Makanya semangat ya kamu di sanaaa! Jangan kasih kendor. Kamu bisa dan aku percaya. Aku sayang kamu. Mmuaah.

Salam cinta

Rosita

Senin, 28 Mei 2018

Ternyata Bukan Kora-Kora

Aku ngga suka naik kora-kora. Tau kan, salah satu wahana di dufan yang bentuknya menyerupai perahu. Perahunya digantung sama tiang gitu terus nanti diayun bolak balik, makin lama makin kenceng.

Kayak gini lho

Ketika perahu diayun tinggi lalu berayun turun ke bawah, sumpah, buat aku rasanya ngga enak banget. Serasa kayak jatuh dari atap gedung tinggi lalu meluncur terjun ke tanah. Rasanya menyeramkan sekali. Aku ngga suka. Perutku sampai mulas. Boro-boro menikmati sambil jejeritan senang seperti yang lain, sepanjang wahana berjalan yang kulakukan adalah jejeritan minta udahan. Dengan wajah pucat syok berat, turun-turun aku nangis kejer sambil gemeteran. Maka cukup sekali saja aku naik kora-kora dan sudah, aku ngga mau lagi.

Aku kira perasaan ketika diayun tinggi naik kora-kora itu masuk ke peringkat pertama kategori perasaan paling ngga ngenakin di dunia versi Rosita. Ternyata aku salah. Kora-kora bukan peringkat satu. Masih ada lagi perasaan yang lebih ngga ngenakin, yaitu perasaan ketika aku terus mengecewakan orang yang aku sayang karena lagi-lagi melakukan kesalahan yang sama. Aku benci sekali perasaan itu.

Sialnya, malam ini perasaan itu sedang datang. Baru saja lagi-lagi aku melakukan salah yang sama pada dia. Lagi-lagi aku bikin dia sedih.

Biasanya aku sama sekali ngga ada kesulitan untuk tidur. Terlalu gampang tidur malah, sampai kadang nimbulin masalah. Tapi malam ini aku ngga bisa tidur. Sekarang aku ngerasain gimana rasanya jadi overthinker dengan segala pikiran dan kekhawatirannya yang membebani isi kepala.

Kalau isi kepalaku dibuka, kalian akan temukan di dalamnya banyak sekali penyesalan. Penyesalan yang berserakan di mana-mana memberantaki ruang dalam kepala. Penyesalan yang berjejal-jejalan tak karuan. Penyesalan yang seperti amoeba, terus membelah diri, berlipat ganda, bertambah dalam jumlah. Penyesalan yang membuatku ingin sekali memaki dan menghukum diri sendiri dengan berdiri di pojokan satu kaki sambil tangan menjewer telinga. Penyesalan yang mengundang pikiran-pikiran lain untuk datang namun tak satupun ada pikiran menyenangkan. Pikiran-pikiran yang penuh kekhawatiran.

Bagaimana kalau kali ini kata maaf pun tak cukup untuk menebus rasa sesal?

Bagaimana kalau kesalahan yang terus berulang ini bisa menghapus semua hal baik yang pernah terkenang dan hanya menyisakan amarah satu-satunya?

Bagaimana kalau tercipta jarak dari dia yang makin lama makin merenggang karena perasaannya yang tak lagi sama?

Bagamana kalau dia lelah terkecewakan dan memilih menghentikan apa-apa yang selama ini sudah diperjuangkan?

Bagaimana..?

Bagaimana..?

Bagaimana..?

Dan terus berdatangan segala pikiran buruk yang diawali kata bagaimana. Aku benci perasaan ini. Aku benci segala kekhawatiran yang lama-lama berubah jadi ketakutan ini. Lebih benci dari perasaan ketika naik kora-kora. Rasanya kora-kora jadi tak ada apa-apanya.