Waktu memang begitu, membatu ketika merindu, melesat laju ketika tak ingin dia berlalu.
Waktu memang begitu, tak bisa diminta menunggu, pun diajak terburu-buru.
Waktu memang seperti itu..
(Kramat Raya, 15 Februari 2016)
Waktu memang begitu, membatu ketika merindu, melesat laju ketika tak ingin dia berlalu.
Waktu memang begitu, tak bisa diminta menunggu, pun diajak terburu-buru.
Waktu memang seperti itu..
(Kramat Raya, 15 Februari 2016)
"Sayang?"
"Hmm?"
"Menurut kamu cinta itu apa?"
"Eh, apa?"
"Menurut kamu cinta itu apa?"
"Kenapa kok kamu tiba-tiba nanya gitu?"
"Ya.. ngga papa, iseng aja."
"Yeeee, kalau iseng mah mending kamu isi TTS gih, terus kirimin hasilnya. Lumayan, iseng iseng berhadiah."
"Iiiiih! Kamu nyebelin!"
"Aduh, aduh, ampun! Cubitan kamu naik level kayaknya ya, makin pedes."
"Jawab makanya yang bener, atau aku cubit lagi nih!"
"Hahaha, kamu sih, ditanya kenapa jawabnya iseng doang."
"Yaa... aku pengen tau aja, kalau menurut kamu cinta itu apa?"
"Hmm.. cinta ya.. apa ya..
Kalau dideskripsiin agak susah sih..
Tapi tiap denger kata cinta, entah kenapa ada hal yang tiba-tiba aja terlintas di pikiran aku."
"Oya? Apa itu?"
"Hujyan, ojyek, becyek."
"Kamu ngeselin banget tau nggaaaaaaaa!!!!!"
"Adududuh, ampun, ampun!! Itu tangan apa tang sih, nyubit pedes banget!"
"Kamu juga, orang apa bumbu pecel sih, ngegemesin minta diulek tau ngga!"
"Hahaha, gurih gurih nikmat dong."
"Bodo ah, bweeeeek!"
"Hahaha, iya iya, aku jawab nih. Cinta ya.. hmm.. jujur aku ngga terlalu ngerti sih apa itu cinta."
"Yah, gitu.."
"Haha beneran, aku ngga terlalu ngerti cinta itu apa."
"Berarti yang selama ini kamu rasain sama aku kamu sebut apa? Selama ini kamu bertahan sama aku karena apa?"
"Apa ya, ya iseng aja, daripada jomblo kan, ehehe.."
"Bodo amat! Auk ah, ngeselin!!"
"Ahaha, dih, jelek banget manyun gitu..
Yah, mungkin emang aku ngga terlalu ngerti apa itu cinta, tapi aku ngerti dengan baik sinyal-sinyal yang dipancarkan Tuhan."
"Sinyal?"
"Iya, sinyal..
Jadi lewat perantara semesta, Tuhan mengirim sinyal-sinyal yang mengandung arti..
Sinyal yang gelombangnya berhasil ditangkap oleh hati, dan artinya aku mengerti dengan baik."
"Sinyal berupa apa?"
"Banyak. Debaran di jantung, bibir yang senyum-senyum mandangin pesan masuk, rindu kalau ngga ketemu, banyak deh! Itu, sinyal-sinyal yang dikirim Tuhan."
"Terus, apa arti sinyalnya?"
"Arti sinyalnya?
Artinya..
Kata Dia, kamu layak untuk aku perjuangin.."
"..."
"Kata Dia, masa depan bersama kamu, layak untuk dijalanin.."
"..."
"Kata Dia, waktu menua bersama kamu, layak untuk dilewatin.."
"..."
"Itu yang aku ngerti."
"..."
"Dan karena itu, aku memilih kamu.."
"... hiks..."
"Hei, kok kamu nangis?"
"Ngga, hiks, aku ngga nangis kok, hiks.."
"Terus itu apa dong, air cucuran atap yang jatuh ke pipi?"
"Hiks.. ini sinyal tau, buat kamu.."
"Ooo, apa arti sinyalnya?"
"Arti sinyalnya?
Katanya sama kamu, aku bahagia..
Terima kasih selama ini udah perjuangin aku. Perjuangin kita."
"Ooo, aku kira artinya kamu kalau nangis tambah jelek, hidungnya jadi merah gitu tuh."
"KAMU NGESELIN BANGET SIH, HIIIIIH!!!!!"
"WAHAHAHAA, ADUDUDUDUH, AMPUUUUN!!"
Selamat datang di kehidupan
Tempat di mana tidak semua yang terjadi adalah hal yang menyenangkan.
Tempat di mana tidak semua damba bisa dijangkau tangan.
Tempat di mana tidak semua ketentuan-Nya sejalan dengan yang diekspektasikan.
Tempat di mana tidak semua perjalanan terlalui dengan mulus tanpa hambatan.
Tempat di mana tidak semua harapan bisa mewujud jadi kenyataan.
Karena ini kehidupan.
Karena hidup bukan taman ria yang isinya hanya kesenangan.
(Serpong, 16 Januari 2016)
Mari duduk bersisian
Dengan bahu yang saling bertempelan
Pandang yang seringkali bercuri-curian
Dunia, seisinya, dan apa saja untuk diperbincangkan
Beserta degup yang gaduh tak beraturan
Lalu kita akhiri hari dengan menumbalkan waktu untuk disalahkan
Karena melesat terlalu laju seperti kuda balapan
(Kramat Raya, 13 Januari 2016)
Tentang masa lalu
Aku tidak ingin melupakannya
Yang aku mau
Ketika kenangan membawanya kembali
Aku tersenyum
Dan baik-baik saja
(Tanah Abang, 8 Januari 2016)