Pages

Minggu, 14 Februari 2016

Waktu

Waktu memang begitu, membatu ketika merindu, melesat laju ketika tak ingin dia berlalu.

Waktu memang begitu, tak bisa diminta menunggu, pun diajak terburu-buru.

Waktu memang seperti itu..

(Kramat Raya, 15 Februari 2016)

Senin, 08 Februari 2016

Cakap Tentang Cinta

"Sayang?"

"Hmm?"

"Menurut kamu cinta itu apa?"

"Eh, apa?"

"Menurut kamu cinta itu apa?"

"Kenapa kok kamu tiba-tiba nanya gitu?"

"Ya.. ngga papa, iseng aja."

"Yeeee, kalau iseng mah mending kamu isi TTS gih, terus kirimin hasilnya. Lumayan, iseng iseng berhadiah."

"Iiiiih! Kamu nyebelin!"

"Aduh, aduh, ampun! Cubitan kamu naik level kayaknya ya, makin pedes."

"Jawab makanya yang bener, atau aku cubit lagi nih!"

"Hahaha, kamu sih, ditanya kenapa jawabnya iseng doang."

"Yaa... aku pengen tau aja, kalau menurut kamu cinta itu apa?"

"Hmm.. cinta ya.. apa ya..

Kalau dideskripsiin agak susah sih..

Tapi tiap denger kata cinta, entah kenapa ada hal yang tiba-tiba aja terlintas di pikiran aku."

"Oya? Apa itu?"

"Hujyan, ojyek, becyek."

"Kamu ngeselin banget tau nggaaaaaaaa!!!!!"

"Adududuh, ampun, ampun!! Itu tangan apa tang sih, nyubit pedes banget!"

"Kamu juga, orang apa bumbu pecel sih, ngegemesin minta diulek tau ngga!"

"Hahaha, gurih gurih nikmat dong."

"Bodo ah, bweeeeek!"

"Hahaha, iya iya, aku jawab nih. Cinta ya.. hmm.. jujur aku ngga terlalu ngerti sih apa itu cinta."

"Yah, gitu.."

"Haha beneran, aku ngga terlalu ngerti cinta itu apa."

"Berarti yang selama ini kamu rasain sama aku kamu sebut apa? Selama ini kamu bertahan sama aku karena apa?"

"Apa ya, ya iseng aja, daripada jomblo kan, ehehe.."

"Bodo amat! Auk ah, ngeselin!!"

"Ahaha, dih, jelek banget manyun gitu..

Yah, mungkin emang aku ngga terlalu ngerti apa itu cinta, tapi aku ngerti dengan baik sinyal-sinyal yang dipancarkan Tuhan."

"Sinyal?"

"Iya, sinyal..

Jadi lewat perantara semesta, Tuhan mengirim sinyal-sinyal yang mengandung arti..

Sinyal yang gelombangnya berhasil ditangkap oleh hati, dan artinya aku mengerti dengan baik."

"Sinyal berupa apa?"

"Banyak. Debaran di jantung, bibir yang senyum-senyum mandangin pesan masuk, rindu kalau ngga ketemu, banyak deh! Itu, sinyal-sinyal yang dikirim Tuhan."

"Terus, apa arti sinyalnya?"

"Arti sinyalnya?

Artinya..

Kata Dia, kamu layak untuk aku perjuangin.."

"..."

"Kata Dia, masa depan bersama kamu, layak untuk dijalanin.."

"..."

"Kata Dia, waktu menua bersama kamu, layak untuk dilewatin.."

"..."

"Itu yang aku ngerti."

"..."

"Dan karena itu, aku memilih kamu.."

"... hiks..."

"Hei, kok kamu nangis?"

"Ngga, hiks, aku ngga nangis kok, hiks.."

"Terus itu apa dong, air cucuran atap yang jatuh ke pipi?"

"Hiks.. ini sinyal tau, buat kamu.."

"Ooo, apa arti sinyalnya?"

"Arti sinyalnya?

Katanya sama kamu, aku bahagia..

Terima kasih selama ini udah perjuangin aku. Perjuangin kita."

"Ooo, aku kira artinya kamu kalau nangis tambah jelek, hidungnya jadi merah gitu tuh."

"KAMU NGESELIN BANGET SIH, HIIIIIH!!!!!"

"WAHAHAHAA, ADUDUDUDUH, AMPUUUUN!!"

Sabtu, 23 Januari 2016

Kisah Ujung Pelangi

Langit makin menggelap, menandakan waktu tidur sudah tiba. Tangkai jarum jam yang termungil nyaris menunjuk angka yang sama dengan jumlah semua jari-jemari di kedua tangan. Seorang bocah terbaring di tempat tidur. Tubuhnya tertutup selimut, namun matanya terbuka lebar, menampakan sejumput energi dan semangat yang masih tersisa, belum sepenuhnya habis oleh kantuk.

"Lho, Iris belum bobo?"

Seorang wanita muncul dari ambang pintu, menghampiri bocah itu dan duduk di tepi kasurnya.

"Belum Bu, aku belum ngantuk."

"Udah malem lho, besok sekolah kan."

"Iya,tapi aku belum ngantuk. Ceritain aku dong Bu."

"Mau cerita apa emang?"

"Mmm.. apa ya.." bola mata bocah itu memutar ke atas sementara dia berpikir.

"Oia! Cerita Ibu ketemu Bapak deh!" serunya.

Sang Ibu tertawa.

"Hooo, mau tau gimana Ibu ketemu sama Bapak?"

Iris menjawab dengan anggukan penuh semangat. Sang Ibu membetulkan posisi duduknya agar lebih dekat dengan Iris lalu mulai bercerita..

***

Tak ada yang lebih disukai para peri cahaya penghuni awan selain bumi sore hari selepas hujan. Setiap momen itu tiba, para peri cahaya selalu turun menjumpai bumi. Entah untuk melompat-lompat di genangan, menjejak rumput basah, atau sekedar duduk menyaksikan sisa tetes hujan berlomba turun dari dedaunan, adu cepat siapa yang lebih dulu menyentuh tanah. 

Menuju bumi, para peri cahaya tidak turun melompat begitu saja, tidak. Mereka meluncur turun dari awan dengan seluncuran warna warni yang mereka ciptakan dari pendar cahaya yang membias, yang membentuk lengkung tujuh warna, yang kemudian mereka namakan pelangi.

Setiap kali peri cahaya meluncur turun ke bumi, selalu ada bubuk cahaya dari tubuh mereka yang berjatuhan dan tertinggal di ujung pelangi. Bubuk cahaya yang mengandung keajaiban. Siapapun manusia yang bisa menyentuhnya akan mendapat harta yang tak ternilai, yang paling berharga dalam hidupnya.

***

"Aku kan minta Ibu cerita gimana Ibu ketemu Bapak, kenapa malah cerita itu?" Iris melipat tangan di dadanya, sebal.

Ibu tersenyum dan menaruh telunjuknya di bibir.

"Diam dulu. Dengerin. Ceritanya belum selesai."

***

Sore itu langit tumpah ruah. Bulir-bulir hujan tak henti berdatangan menjejak bumi. Jalan sepi. Banyak makhluk menepi, berteduh mencari tempat berlindung. Tapi tidak gadis itu. Dia tampak tak peduli, justru menikmati. Dengan payung di tangan, ia terus berjalan di bawah iringan hujan hingga rintiknya menipis, melambat, dan akhirnya mereda. 

Sedikit demi sedikit langit menerang. Berkas cahaya mulai memancar dari matahari yang masih mengintip malu. Lalu saat itulah ia melihatnya. Tepat di depan matanya. Lengkungan besar seluncuran tujuh warna. Pelangi. 

Ia termangu takjub, terpukau dengan apa yang dilihatnya. Dengan terpesona ia melangkah, menyusuri arah lengkung pelangi hingga tibalah dia pada ujungnya. 

Baginya pelangi sungguh mempesona. Namun apa yang kini ia lihat jauh lebih menakjubkan lagi. Ujung pelangi yang berpendar karena bubuk cahaya yang berjatuhan. Kuning keemasan, gemerlap berkilauan. Seterang pijar kunang-kunang. Didorong rasa takjub dan penasaran, tak sadar ia julurkan tangan menyentuh cahaya berpendar di ujung pelangi. 

Lalu terjadilah. Ketika bersentuh dengan tangannya, cahaya di ujung pelangi bersinar makin terang. Sangat menyilaukan, hingga gadis itu harus menutup mata seraya menghalau cahaya dengan tangannya. 

Saat akhirnya ia membuka mata, pelangi dan ujungnya yang bercahaya sudah lenyap. Namun ia masih terpaku karena di depannya berdiri hal yang tak kalah mempesona. Tak kalah indah dari pelangi. Tak kalah menawan dari ujungnya yang bercahaya. 

Sesosok lelaki.

***

"Dan itulah ceritanya gimana Ibu ketemu Bapak."

Ibu memandang Iris yang kini sudah terlelap tidur. Ia bangkit perlahan, takut mengganggu tidur Iris.

"Selamat tidur ujung pelangi kedua Ibu." Ibu berbisik pelan di telinga Iris, mengecup dahinya, mematikan lampu, dan keluar kamar.

"Iris udah tidur, Dek?" tanya Bapak melihat Ibu keluar dari kamar Iris.

"Sudah Mas. Tadi ngga bisa tidur, terus minta diceritain. Sekarang sudah pules tuh."

"Oh.. cerita apa sih?"

Ibu tersenyum jahil sambil mengedipkan matanya.

"Rahasia.."


Jumat, 22 Januari 2016

Karena Menulis Adalah Merekam Kenangan ke Dalam Kata

Aku manusia pelupa, karena itu aku harus menulis, 
agar jika nanti ada hal penting yang tak sengaja terlupakan
seperti kenapa aku yakin untuk menitipkan hati padamu misalnya, 
aku bisa mengingatnya lewat ingatan yang tersimpan rapi dalam wujud aksara.
(Serpong, 22 Januari 2016)
Jumat, 15 Januari 2016

Karena Ini Kehidupan

Selamat datang di kehidupan

Tempat di mana tidak semua yang terjadi adalah hal yang menyenangkan.

Tempat di mana tidak semua damba bisa dijangkau tangan.

Tempat di mana tidak semua ketentuan-Nya sejalan dengan yang diekspektasikan.

Tempat di mana tidak semua perjalanan terlalui dengan mulus tanpa hambatan.

Tempat di mana tidak semua harapan bisa mewujud jadi kenyataan.

Karena ini kehidupan.

Karena hidup bukan taman ria yang isinya hanya kesenangan.

(Serpong, 16 Januari 2016)

Selasa, 12 Januari 2016

Mari?

Mari duduk bersisian
Dengan bahu yang saling bertempelan
Pandang yang seringkali bercuri-curian
Dunia, seisinya, dan apa saja untuk diperbincangkan
Beserta degup yang gaduh tak beraturan
Lalu kita akhiri hari dengan menumbalkan waktu untuk disalahkan
Karena melesat terlalu laju seperti kuda balapan

(Kramat Raya, 13 Januari 2016)

Jumat, 08 Januari 2016

Tentang Masa Lalu

Tentang masa lalu
Aku tidak ingin melupakannya
Yang aku mau
Ketika kenangan membawanya kembali
Aku tersenyum
Dan baik-baik saja

(Tanah Abang, 8 Januari 2016)