Pages

Selasa, 31 Juli 2012

Senyum Penuntas Rindu


rinduku padamu serupa candu
rinduku menelan hampir seluruh waktu
rinduku menyiksaku dengan keindahan semu
rinduku menyakitkan karena rasa ini hanya milik aku
rinduku mengilukan karena membawa harapan palsu
saat rinduku datang aku ingin sosokmu
maka kupejamkan mataku dan hadirlah kau menyapaku
kau tersenyum, senyum yang hanya untuk aku
senyum yang sanggup meredupkan bintang karena malu
dan dengan senyum itu tuntaslah hari ini semua rindu
Senin, 04 Juni 2012

suntikan semangat! cuuush!

"Allah never gives more than we can handle.."

"..karena sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan, sesudah kesulitan ada kemudahan.."

"..jika mimpi seluas hamparan, usaha seluas langit.."

"untuk hasil yang luar biasa, prosesnya pun harus luar biasa!"

"pedang yang bagus adalah pedang yang ditempa berkali-kali.."

"kalau kamu down, coba lihat orang tua kamu, kamu masih punya alasan untuk terus bangun dan berjuang.."

"doa tanpa usaha itu bohong, usaha tanpa doa itu sombong.."

"perjuangan yang paling sulit adalah saat mulai mencapai titik akhir, sudah terlalu lelah tapi sayang jika menyerah dan berhenti. lalu apa yang harus dilakukan? terus berjalan!"

"Allah menciptakan segala sesuatunya satu paket. penyakit dengan obatnya, masalah dengan solusinya, kesulitan dengan pertolongannya.."

ada yang mau nambahin lagi?
Sabtu, 28 April 2012

tentang bulan yang (dulu) sering kita lihat

aku rindu menatap bulan bersama kamu seperti yang biasa kita lakukan dulu, karena entah kenapa rasanya sekarang kita tidak lagi memandang bulan yang sama. mungkin karena kini kita mulai sibuk dengan urusan kita masing-masing sehingga tidak ada waktu untuk sekedar melihat bulan. atau mungkin kini kita ada di dua kutub yang berbeda, sehingga saat bulan bersinar terang di tempatku, matahari bahkan belum terbenam di tempatmu. atau mungkin juga karena kedua alasan tersebut. entahlah. 

bila memang karena kini kita yang mulai terlalu sibuk, tidak bisakah kita sisihkan sedikit saja waktu kita untuk bertemu?

bila karena kini kita ada di kutub yang berbeda, tidak bisakah kita berjalan ke suatu titik dimana kita bisa bertemu?

tidak bisakah kita menatap bulan bersama lagi seperti dulu? sungguh, aku rindu, dan bulan terlalu indah untuk kita lewatkan atau untuk kita nikmati sendirian..


Kamis, 22 Maret 2012

unyunyunyuuuuu..

aloha! let me introduce you to my lovely niece. tadaaa, here she is!


unyu ya, unyu yaaa.. hehe.. mirip banget sama tantenya, kalau kata orang mah like niece like aunt. ihhiy. ponakan saya ini namanya athaya, nama panjangnya athayaaaaaaaaaaaa #plak #garing. she is the daughter of my elder sister dan umurnya sekarang...emm, berapa ya? antara 1 atau 2 tahun pokoknya, lupa ah, nanti saya liat ktp-nya deh.

tingkahnya sekarang kalau bisa dibilang macem-macem dan udah banyak bisanya. udah bisa lari-lari, corat-coret, diajak main, diajak ngobrol, terakhir malah saya liat dia ngobrol sama bapak saya masalah anas urbaningrum dan angelina sondakh *ebuseeeehh..*. tapi skill-nya yang menurut saya unyu banget adalah.....*jeng jeng*

..udah mulai sadar kamera. yap, kalau difoto udah mulai bisa bergaya.

aQ uNyU y4cHH.. *alay mode on*
kalau hape udah mulai ngarah ke dia, reflek langsung ambil pose, tangannya ditaro di pipi ala model-model jaman baheula.


aduh, salah tidur nih, leher keseleo
habis difoto, dia bakal minta liat hasilnya, terus ketawa cekikikan liat fotonya sendiri, terus nunjukin fotonya ke orang-orang. dan setelah itu, minta foto lagi. narsis tingkat nasional. makanya jangan heran kalau di hape saya lebih banyak foto-fotonya dibanding foto saya. mungkin kalau dipersentasekan, foto dia kira-kira ada 88 % dan foto saya sisanya, cuma 37 %. #persentasegagal  #abaikan #tkseringbolos

berikut penampakan foto-fotonya

"kamu tau ngga ini kunci apa?"
"ngga, emang kunci apa sih?"
"kunci untuk membuka hatimu...."

tsamina mina e e waka waka e e..

wle wle wleee..
"tatap mata saya, lalu anda akan tertidur.."

cup cup, mmuaaahh..

"nah lho, remnya blong, ngga bisa berentiiii..!!!!!"
 dan ini dia foto-foto yang unyunya ngga masuk akal..

sedang menggali emas! she's gonna be rich!

.........*speechless*

"hwoooo, aku hantuu.. ohohooo.."
Kamis, 08 Maret 2012

tentang televisi



jujur akhir-akhir ini saya udah jarang banget nonton tivi. bukan karena saya ngga punya tivi atau listrik belum masuk rumah saya, tapi karena tiap saat remote tivi pasti udah ada aja yang megang. entah mamah saya, bapak saya, atau adek saya. kalau mamah saya yang megang, yang ditonton pasti sinetron dubbing indosiar yang backsoundnya dangdut dan ada adegan nyanyi sambil joget-joget di taman. hissh. kalau adek saya yang megang, yang ditonton acara rebutan bola antara 22 orang laki-laki *kenapa ngga saya sebut sepak bola aja ya?*. kalau yang megang bapak saya, yang ditonton berita kelas berat yang isinya ngga saya ngerti, bahasanya juga tingkat tinggi. pokoknya ada ruhut sitompul, hotman paris, dan kawan-kawan deh. hissh, ngga ada yang menarik. kalau saya ikutan nonton, bisa-bisa malemnya saya mimpi main bola sama ruhut sitompul dan hotman paris di taman bunga sambil joget-joget ngiderin pohon dan nyanyi india. random banget.

makanya daripada nonton tivi saya lebih milih internetan, atau baca buku, atau tidur, atau internetan sambil baca buku sambil tidur *nah lho, gimana tuh*. efeknya, kalau temen-temen saya mulai rame ngomongin acara tivi atau iklan baru, saya diem. cengok. what are they talking about? aaazzzzz.. berasa ada di tengah-tengah sekumpulan alien lagi ngerumpi. saya pun akhirnya lebih milih ngeliatin semut yang berbaris di dinding menatapku curiga, seakan penuh tanya, sedang apa disini? jadi kambing congek jawabku. dan kalau pas nonton tivi ada iklan yang baru saya liat, saya suka heboh sendiri jadinya, kayak orang purba pertama liat api. 'eehh, udah liat iklan pepsodent yang baru belum?? ada smash-nya lho joget-joget!!' dan reaksi mereka 'itu mah iklan lama kalee, kemana aja lo, cape dyeeeh..' sambil tangan ditaro jidat dan memandang saya seolah saya mumi 2000 tahun lalu yang baru bangkit lagi. fyuuh.

kadang saya nyoba nonton tivi lewat tivi online, tapi berhubung di daerah rumah saya banyak pohon, sinyalnya banyak yang nyangkut kali ya, jadinya kalau kata anak 940L *baca : gaol* sekarang mah lemot beeeeuuudd.. suaranya udah jalan tapi gambarnya ngga jalan, masih loading. ngga enak banget ditonton. kalau nonton sepak bola misalnya, suara komentatornya udah teriak-teriakan gol tapi di gambar masih stuck pemainnya lagi rebutan bola. antiklimaks.

tapi kalau dipikir-pikir ngga terlalu nyesel juga sih, karena kalau diliat-liat acara tivi akhir-akhir ini ngga terlalu menarik. isinya ya infotainment, ftv cinta-cintaan, sinetron, talkshow, dan acara musik lokal dimana alayers berkumpul joget-joget jejingkrakan sepanjang lagu. hadeeehh.. padahal zaman dulu waktu saya masih unyu, imut-imut dan innocent, acara tivi bagus-bagus banget, dari sinetron sampai kartun. keluarga cemara, lorong waktu, jin dan jun, ghost at school, sailor moon, wedding peach, nube, p-man, cardcaptor sakura, digimon, banyak deh pokoknya! saya inget dulu kalau sehari aja ngga nonton tivi rasanya tuh nyeseeeell banget. bawaannya ngambek, marah-marah, bad mood kayak lagi PMS *padahal dapet juga belum*, soalnya banyak film yang bakal saya lewatin. uhu.

tapi sekarang? ngga nonton seharian juga kayaknya bodo amat. hahaa.. mungkin agak sebel, tapi sebelnya bukan karena ada acara yang saya lewatin dan ngga bisa saya tonton, tapi lebih ke alasan yang udah saya sebutin di atas. yah, dan kalaupun nonton, paling yang saya liat film box office yang menurut saya bagus atau acara semacam on the spot dan spotlite. ngga tau kenapa sekarang rasanya saya ngga menikmati banget yang namanya nonton tivi. but honestly, i miss the moment when i really really enjoy watching television, when the television and me were bestfriend..
Rabu, 29 Februari 2012

semangat, semangat, semangat!!!

seandainya hidup saya ini sebuah film, saat ini saya butuh banget background petir menyambar-nyambar dan backsound "jeng jeng jeng jeng" yang mencekam, terus saya teriak dengan wajah yang histeris, "APAAAAAAAA..?????" lalu gelas yang saya pegang jatuh, pecah berkeping-keping ke lantai. haha, oke lebay, cuma penggambaran adegan dan suasana itu rasanya pas banget dengan keadaan saya sekarang, karena saya baru aja dapet kabar yang mengagetkan dan mirisnya, itu kabar buruk menurut saya, bisa dibilang a nightmare come true..

saya pun berfikir, apa yang harus saya lakukan menanggapi kabar ini? jujur, saya orang yang gampang banget down. masalah kecil aja bisa bikin mood saya encok dan urang-aring uring-uringan seharian. efeknya, ngga nafsu makan *kalau udah kenyang*, ngga bisa tidur *kalau ngga ngantuk*, dan ngga enak minum *kalau airnya air kobokan*. pokoknya bad mood parah deh! tapi masa setiap ada masalah saya harus selalu nge-down? apa saya harus selalu diatur oleh mood saya yang ngga menentu dan ngga stabil ini? jawabannya tentu aja : NGGA! kali ini saya ngga mau down! saya ngga mau dikalahkan oleh tantangan. saya mau mengendalikan mood saya, bukan dikendalikan. saya mau bangkit. saya mau berdiri. saya mau menghadapi dan menyelesaikan masalah saya. i believe Allah gives me a difficulty because He knows i can handle it. and i believe Allah doesn't give us more than we can handle..
Selasa, 14 Februari 2012

the greatest love story ever!

Kisah ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah

chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”


Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.

”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

”Entahlah..”

”Apa maksudmu?”

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,

”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4).