Pages

Senin, 05 Januari 2026

Mau ke Planetarium Pokoknya!

Dari sekian banyak hal yang kusukai, selain uang, jajan, dan wangi suamiku sehabis mandi, astronomi adalah salah satu di antaranya. Aku suka segala hal tentang luar angkasa. Dulu waktu kecil, kolom cita-cita di buku harian selalu kuisi dengan “astronot”. Sampai akhirnya berganti jadi “detektif”, gara-gara kebanyakan baca Detektif Conan.

Aku suka sekali melihat bintang. Biasanya kulakukan saat malam bulan puasa. Kenapa bulan puasa? Karena di bulan biasa aku takut setan. Kalau langit sedang cerah, aku ke halaman depan, menengadah, memandangi langit malam. Bermodalkan Wikipedia, aku membaca rasi bintang, menelusuri setiap titik kerlipnya, menerka-nerka namanya, menebak mana Sirius, mana Bellatrix, lalu membayangkan wujud konstelasinya di dalam kepala.

Saking sukanya, aku bahkan punya angan kalau suatu hari punya anak, aku ingin memberinya nama yang merujuk pada bintang. Salah satu nama yang kusiapkan adalah Antares, bintang paling terang di rasi Scorpius. Entah nanti kesampaian atau tidak, itu masih harus dinegosiasikan dulu dengan rekan satu tim reproduksi. Kalau approved, ya oke. Kalau ngga juga ngga apa-apa. Paling sepatunya yang paling bagus kupakai buat nginjek tai ayam.

Aku suka sekali astronomi. Jadi, ketika Desember kemarin baca berita bahwa per 23 Desember Planetarium Cikini akhirnya diaktifkan lagi, wiiih, rasa senangnya jauh lebih menggembirakan daripada nemu uang di kantong celana yang baru dicuci. Planetarium dalam memoriku adalah kenangan yang sangat magis. Dulu sebelum ditutup untuk perbaikan, aku sempat sekali berkunjung ke sana nonton Teater Bintang. Dan bagiku, itu adalah pengalaman paling menakjubkan, paling indah, paling memukau sepanjang hidupku.

Aaaahhh… aku pengen banget ke Planetarium lagi, tapi kenapa tiketnya susah banget??? Sold out terus ya Allah, sampai 18 Januari habis semua. Aaaakkk. Sebaaaal. 

Pokoknya tahun ini aku ganti wishlist, dari yang sebelumnya pengen ke Dufan pake tiket fast track biar bisa berkali-kali naik arung jeram tanpa antri, tahun ini keinginanku adalah ke Planetarium nonton Teater Bintang!
Jumat, 20 Juni 2025

Yang Ngga Pernah Berubah

Salah satu hal yang kurasa makin sulit dilakukan pada rentang usiaku sekarang, yang sudah masuk ke dalam target pasar dari iklan-iklan Agnes Monica, adalah me-maintain hubungan pertemanan. Apalagi teman lama yang udah terpencar ke banyak arah.

Gimana yah, me-maintain itu kan butuh waktu dan effort ya, sedangkan dewasa ini hampir sebagian besar hidup isinya tanggung jawab, dan itu menyita banyak sekali waktu dan energi.

Ada pekerjaan yang jadi rutinitas harian. Ada keluarga yang butuh diurus. Waktu udah ngga sebebas dulu yang diajak hayuk langsung gas. Kalaupun ada waktu kosong pengennya rebahan aja, karena buat mikirin nanti masak apa aja energi udah kepake banyak.

Yang tadinya rutin berkontak akhirnya mulai jarang. Yang udah jarang akhirnya lama-lama hilang. Masing-masing sibuk dengan hidupnya yang sekarang. Tapi kadang ketika muncul hal-hal yang memicu kenangan, selalu ada ingatan yang datang.

"Film ini dulu kan aku tonton sama Si Ini."

"Ini kan lagu yang sering dinyanyiin sama Si Ini."

"Dulu Si Ini ngefans banget sama artis ini."

Kadang ada muncul keinginan untuk mengirim pesan dan berkontak lagi, tapi aku bingung. Terlalu panjang waktu berlalu. Terlalu banyak hal terlewatkan. Harus mulai dari mana? Apa yang harus aku katakan? Dulu kayaknya apa aja bisa jadi obrolan, sekarang membuka topik aja aku kebingungan.

Tapi beruntungnya ada medsos, dari sana seengganya aku tau sedikit kabar dari mereka. Ada yang baru melahirkan anak kedua. Ada yang sekarang punya hobi lari. Ada yang melanjutkan sekolah ke luar negeri. Ada yang menekuni profesi yang sudah jadi mimpinya dari dulu. Ada yang selalu membagikan hal-hal lucu dan menyenangkan tentang anaknya.

Padahal ngga ikut terlibat dan hanya melihat sekelibat, tapi ada rasa senang ketika tau teman-temanku menjalani hidupnya dengan baik. Sehat, berbahagia, menikmati hidupnya sekarang.

Mungkin sekarang sulit untuk hadir lagi mengulang rasa dan kenangannya. Mungkin obrolan terpanjang saat ini hanya balasan komentar yang berakhir dengan stiker atau emoji. Tapi semua yang udah dijalanin sama-sama masih ada, aku simpan dalam hati dan kepala. Disana kalian selalu sama seperti dulu. Ngga pernah berubah. 

Kamis, 12 Juni 2025

Cerita Temanku

Aku bukan orang dengan energi sosial yang tinggi. Temenku ngga banyak, bisa dibilang itu-itu aja. Dibandingkan dengan band Wali aja masih lebih banyak personilnya. Hampir semua temenku pun tipikal yang normal. Yang adem ayem, baik-baik, ngga banyak berkonflik. Ada aneh-aneh pun paling mentok make sendal beda sebelah.

Makanya aku amaze banget ketika ada temen kantorku yang lingkaran sosialnya luas banget, yang kalau bulan puasa ada setahun pun kayaknya bisa tiap hari bukber sama sirkel yang beda-beda saking banyaknya.

Temen-temennya pun beragam, mencakup semua kalangan. Dari tipe-tipe ambis belajar, sampai yang anehnya bikin aku mikir "Oh, orang begitu ternyata beneran ada ya, kirain cerita sinetron doang". Dari yang masyarakat biasa, sampai pas kemaren ada selegram yang beritanya lagi trending, dia tiba-tiba bilang "Eh waktu dia nikahan kan gua dateng tuh."

Widih.

"Set, temen lu macem-macem banget dah. Jangan-jangan lu juga punya temen yang jadi admin judi di Kamboja ya?" aku ngomong asbun aja.

"Iya, emang ada."

"Hah??"

"Yang jadi LC juga ada."

"HAHH???"

"Yang video syurnya pernah viral di internet juga ada."

"HAAAAAHHH???"

Siapa itu Vidi Aldiano??? Harusnya dia nih yang jadi Duta Persahabatan Indonesia.

"Wih, kok.. kok bisa sih punya temen yang beragam macem-macem gitu?"

"Yah.. lu punya banyak temen dulu mbak.."

Anjay.

Singkat, padat, ngga punya banyak temen.

Senin, 28 Oktober 2024

Fase Nakal

Bukan sombong atau pick me atau kepedean ngaku-ngaku sendiri yah, tapi bisa dibilang aku adalah salah satu manusia yang punya reputasi baik. Sumpah. 

Teman kantorku punya suami yang agak protektif. Kalau pergi kemana-mana, perizinannya agak sulit. Ngga semudah itu dapat approval. Ada interogasi dulu yang dilakukan. Mau kemana, sama siapa aja, ada cowoknya atau ngga, pulang jam berapa, mau ngapain aja, sebutkan belalang bernafas dengan apa, dan pertanyaan lain yang prosesnya panjang. 

Tapi begitu namaku disebut sebagai salah satu peserta yang ikut pergi, izin langsung disetujui. Oh ada Mbak Rosita, aman berarti. Boro-boro mabok ciu, separah-parahnya paling mabok karbo karena lanjut jajan kentang goreng habis makan Indomie. Wajah ini lugu bukan tanpa alasan. Akulah Rosita, si anak baik-baik. Ngga pernah nakal, ngga pernah aneh-aneh, kecuali makan biji salak pake bumbu kacang.

Tapi belakangan aku ngerasa aku sedang masuk fase rebel karena aku ngga se-anak-baik biasanya. Aku mulai terlibat dengan ulah nakal.

Seumur hidupku, aku madol cuma sekali. Itu pun waktu sudah kuliah, saat mata kuliah statistik. Awalnya temanku, si Kutilang mengompori. Lalu temanku satu lagi si Beruang mengipasi. Si Jerapah tergoda dan ikut merayu. Aku pun terhasut. Akhirnya kami berempat membolos, pergi main ke Taman Kota. Itu pengalaman madol pertamaku. Dan hari ini, daftarnya bertambah menjadi dua kali pengalaman. Iya, hari ini aku madol.

Tadi sore, tergoda rasa lapar karena makan siang yang ngga mengenyangkan, aku dan seorang temanku, Alfi, menyelinap keluar kantor lalu kabur jajan ke warung. Lebih parah lagi, sebelum kabur ke warung, kami juga sempat malak teman kami karena ngga ngantongin duit. Huhu apakah aku sedang memasuki fase nakal yang terlambat karena sebelumnya ngga pernah nakal?

Yang Mengesalkan dari Jarak

Berapa hari lalu, suamiku dipercaya untuk memberi kata sambutan pada suatu acara. Sebagai istri, tentu aku bangga. Bangga sekali malahan. Dari sekian banyak orang terlibat, yang diberikan kehormatan itu adalah suamiku. Sebagai suporter militan garda terdepan, tentu inginnya aku menyaksikan langsung. Bersorak paling keras dan bertepuk paling kencang untuknya. Namun sial dan menyebalkannya, kami sedang terpisah jarak. Aku di Tangerang, dia di Pekanbaru. Bukan jarak yang bisa diupayakan dengan naik ojol. Maka sangat disayangkan, aku ngga bisa hadir. 

Sebagai kompensasi ketidakhadiranku, dia mengirimkan video saat dia di atas panggung. Video yang durasinya hanya satu menit. Terpotong dari tengah dan tidak tuntas sampak selesai. Tidak ada lagi video lain karena katanya tidak ada yang merekam. Bukan hal besar, toh hanya kata sambutan biasa, katanya. Dan tepat saat itu, tiba-tiba sedih itu datang. Menghantam keras. Kencang sekali.

Betapa berjarak itu sungguh..  menyebalkan. Dan menyedihkan. Karena jarak, entah sudah berapa banyak hal yang terpaksa kulewatkan dan hanya bisa kudengar bagian ceritanya. Entah berapa banyak momen berjalan tanpa ada aku di dalamnya. Seperti acara kemarin salah satunya. Tak peduli bagi orang lain seremeh apa, tapi semua hal baik yang terjadi pada suamiku, semuanya ingin kurayakan. Semuanya ingin turut kurasakan langsung. Semuanya ngga ingin aku lewatkan. Sialan memang jarak.

Dari situ aku sadar, yang paling mengesalkan dari berjarak bukanlah rindu (walaupun iya, itu mengesalkan juga). Yang paling mengesalkan adalah ketidakbisaan untuk hadir secara langsung pada waktu yang sangat kita inginkan. Untuk merasakan langsung. Untuk menikmati langsung. Untuk terlibat langsung. Untuk sepenuhnya hadir. Bukan sekadar video singkat satu menit yang bahkan tidak utuh. Sialan, jarak memang sialan. 

Kalau membayangkan banyak lagi hal yang terpaksa aku lewatkan karena ngga bisa hadir, rasanya aku ingin meyakini saja kalau bumi ini benar datar. Dengan begitu mungkin jarak ini bisa aku lipat jadi lebih dekat. 
Kamis, 27 Juni 2024

Tentang Kopi

Aku bukan pecinta kopi. 

Awalnya.

Abahku adalah seorang peminum kopi. Setiap hari, setidaknya 3 kali sehari, selalu tersaji secangkir kopi panas untuk Abah. Aku pernah baca, katanya seseorang harus berlatih selama total 10.000 jam untuk jadi seorang ahli. Menghitung jam terbang Abah meminum kopi sudah sangat lama, harusnya Abah sudah bisa dibilang ahli meminum kopi. Master malah. Kalau mau bikin perguruan sendiri sudah terbilang mampu.

Melihat Abah yang sangat menikmati meminum kopi, aku yang saat itu masih kecil jadi penasaran. Wah, rasa kopi seperti apa ya? Kok nampak sedap sekali? Warnanya hitam, apa jangan-jangan sebenarnya kopi itu Coca Cola versi panas? Atau cuko pempek versi manis? Rasa ingin tahuku kala itu melambung tinggi.

Ngga mampu menahan rasa penasaran, aku pun bertekad untuk mencicipi kopi. Maka saat Abah sedang beranjak ke kamar mandi, aku menyeruput gelas kopi abah. 

"Hoeeeeeeekk!"

Apaan ini?????

3 kata untuk menggambarkan kopi yang kuminum saat itu. Pahit, getir, panas. Aku mengernyit, ngga habis pikir, apa yang Abah nikmati dari minuman pahit seperti ini??? Jelas-jelas lebih enak Nutrisari. Kalau emang suka pahit, kenapa ngga minum obat puyer dokter aja sekalian?? Pahitnya dapat, ditambah bonus sehat pula. Ngga ngerti banget. 

Aku segera lari ke dapur mengambil gelas, menuang air, dan minum banyak-banyak untuk menghilangkan rasa pahit dari lidah. 

"Ih, aku ngga suka kopi!" Ucapku kala itu sambil bergidik, menjadi titik awal ketidaksukaanku pada kopi.

*****

Beranjak SMP. 
Kata orang, masa remaja adalah masa yang indah, peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Akalnya sudah lebih maju dari anak-anak untuk mengerti kalau biji jeruk yang tertelan ngga akan tumbuh di perut, tapi tanggung jawabnya belum sebesar orang dewasa yang harus menanggung biaya telepon mahal karena anaknya berkali-kali voting Kia AFI supaya ngga tereliminasi (berdasar kisah nyata Mamaku). 

Masa remaja adalah masa-masa naif memandang dunia. Apa itu kerasnya kehidupan? Belum kenal, kawan! Masalah terbesar yang dipunya kala itu adalah ulangan fisika besok. Dan belum belajar. Dan gurunya galak. Mampus.

Aku melihat jam. Jam delapan malam lebih. Aku sudah mulai ngantuk tapi materi untuk ulangan besok belum selesai dipelajari. Mata mulai berat, berasa beban hidup kupanggul di mata, bukan di punggung. 

Aku mengucek mata. Godaan untuk tidur membesar, sebesar bisikan untuk membakar buku pelajaranku dan meminum abu bakarannya dicampur air. Syukurlah sebelum cara itu kulakukan dan berakhir masuk UGD, ide lain terlintas di kepala. Kopi kan katanya bikin melek. Apa minum kopi ya biar ngga ngantuk? Namun ingatan saat dulu meminum kopi Abah muncul. Aku ragu. Lalu kulihat buku pelajaranku. Buku fisika untuk SMP. Aku tersentak. Raguku menghilang. 

Hei, aku kan sudah SMP! Meski ngomong masih cadel, tapi aku sudah besar! Bukan anak kecil lagi! Dulu aku masih bocah, makanya ngga suka. Siapa tau aku yang sekarang, yang sudah lebih dewasa, bisa meminum kopi! 

Aku beranjak ke dapur. Merebus air, menuang 1 sendok teh gula dan 1 sendok teh kopi bubuk ke cangkir, sesuai takaran kopi Abah. Air mendidih. Kutuang air panas ke cangkir. Kini di depanku teronggok secangkir kopi panas yang mengepul. 

This is it. The moment of truth. 

Akan seperti apa ya rasanya? Aku menelan ludah. Kuputuskan untuk mencicipi dulu sedikit dengan sendok. Kuseruput pelan-pelan. 

Ugh. 

Rasanya masih terasa kurang menyenangkan, sama seperti yang kuingat. Pahit. Kutambahkan sesendok lagi gula supaya rasanya lebih ramah untuk lidah. Kuseruput lagi. Masih kurang menyenangkan tapi lebih baik. Kutambahkan lagi gula, terus sampai kurasa layak untuk dikonsumsi tanpa harus mengernyit kepahitan. Apa itu diabetes? Belum paham, kawan!

Seperti Tsubasa yang tiba-tiba flashback teringat kenangan indahnya bersama bola lalu semangat juangnya muncul lagi, seketika energiku seperti terisi kembali. Uwooooh!! Mataku cerah! Aku ngga ngantuk lagi! Aku siap belajar lagi! Mana sini gaya, percepatan, gravitasi, arus, hambatan, gaya, tegangan, mau keroyokan maju sekaligus juga aku ngga takut! Wani aing! Kadieu sia!

Aku pun berkutat di depan buku dengan khusyuk. Mempelajari bab demi bab tanpa halangan. Lancar jaya. Sampai tiba-tiba terasa sesuatu. Aku merasakan gejolak. Bukan, bukan jatuh cinta. Terasa gejolaknya dalam perut, bukan dalam dada. Semakin lama semakin terasa aneh. Kembung melilit diiringi rasa mules menggetarkan bokong. Aku melirik cangkir kopi yang tinggal tersisa ampasnya. Ini pasti gara-gara dia! 

Ngga kuat menahan mules, aku tergopoh-gopoh lari ke kamar mandi. Orang-orang selama ini salah kaprah. Sebenarnya kopi bukan bikin melek, tapi bikin sakit perut sampai mau ngga mau harus melek gara-gara mules. 

Momen mules itu menjadi titik kedua yang menambah alasan ketidaksukaanku pada kopi.

*****

Waktu berjalan. Hari berganti. Usia bertambah. Lemak menyembul. Pinggang meringkih. Aku sudah sepenuhnya dewasa. Inilah aku, Rosita si budak korporat. Melewati Senin sampai Jumat dengan rutinitas yang sama. Berangkat kerja, sarapan, kerja, mikir makan siang, kerja, makan siang, kerja, jajan, kerja, jajan, kerja, lalu pulang. Ulangi lagi sampai lima hari seminggu. 

Mungkin karena melihat hobi, passion, dan keahlian para karyawannya adalah jajan, sebuah pencerahan muncul di kepala Bos.

"Aha, akan kubuat kafe di sini untuk karyawanku jajan, sehingga gaji dariku untuk mereka akan kembali lagi padaku! Fufufu.."

Itulah perbedaan bos dan karyawan. Bos punya otak bisnis, karyawan punya otak mesum.

Singkat cerita, jadilah kafe percis di depan kantor. Nama baristanya Dita. Barista paling cihuy nomor satu se-Depok Raya dan sekitarnya (kenalan aku yang orang Depok dan profesinya barista dia doang soalnya). Sebagai barista, Dita ini baik banget. Mau gimanapun aneh request pesenan kopi yang datang, tetap diterima dan dibikinin. Tapi ngga tau ya, apa request aneh-aneh itu dibikin dengan ikhlas atau sebenarnya dalam hati menyimpan keinginan untuk ganti bubuk kopinya pake bubuk abate. Seperti waktu pertama kali aku pesen kopi.

Dita : espressonya segimana?
Aku : uh, dikit aja, dikit.
Dita : setengah shot?
Aku : lebih dikit lagi.
Dita : seperempatnya?
Aku : lebih dikit lagi.
Dita : ah ribet! Gua tuang pelan-pelan, ntar lu bilang stop dah!
Aku : iya dah..

Aku nurut aja, takut bikin Dita kesel. Orang kalau udah kesel suka nekat soalnya. Apalagi dia orang Depok. Di Depok kan ada Ayah Ojak.

Dita : *menuang espresso dengan pelan ke dalam cup yang sudah berisi es batu dan susu*
Aku : udah, udah! Stop, stop!
Dita : hah? Baru dikit lho, baru berapa tetes doang!
Aku : iya ngga papa, segitu aja.
Dita : idihh apaan sih nih, bukan kopi ini mah, susu rasa kopi! Ngga ada pait-paitnya!

Dita memandang aku dengan sebal, tatapannya seolah berkata "ribet lu, besok-besok seduh sendiri aja kopiko pake air panas!", lalu menyerahkan satu cup es kopi susu yang lebih mirip adonan pukis keenceran saking pucat warnanya. 

******

Jam 2 siang. Semua serius bekerja. Suasana hening, hanya ramai suara tak tik tak tik tak tik (suara ketikan komputer ya, bukan suara sepatu kuda). Aku menguap untuk yang kesekian kalinya. Ngantuk banget. Aku mengerjap-ngerjapkan mata, mencoba mengusir kantuk. Andai ngantuk kayak tawon, bisa diusir dengan bilang "pait, pait, pait". 

Aku menguap lagi. Duh, nyerah deh, ngga kuat. Aku memutuskan pesan kopi ke Dita. Tapi kalau pesen kopi pucet biasa kayaknya ngga bakal ngefek. Wong kafeinnya numpang nama doang, ngga ada kontribusi.

Aku : Bandit (ini panggilanku untuk Dita. Berasal dari Mbak Dita. Mbadita. Mbadit. Badit. Bandit), mau kopi dong. Tapi espressonya ditambah ya, lebih dari takaran biasa. Ngantuk banget.
Dita : seriusan? Oke!

Aku ngga berekspektasi banyak. Kalau ternyata mules, ya udah, ada WC ini. Kalau ternyata pahit dan aku ngga suka, ya udah, aku unjuk rasa ke Dita, demo menolak bayar. Dalam pikiranku, yang penting ngga ngantuk lagi. 

Ngga lama pesanan kopiku jadi. Kali ini visualnya seperti kopi susu normal pada umumnya, warna cokelat susu keruh.

Aku menyedot es kopi susuku. Awal tegukan terasa manis, lalu ngga lama muncul sensasi rasa pahit. Beberapa sesapan kemudian, aku tersadar. Di akhir tegukan rasanya pahit. Pahit yang membekas. Tapi anehnya, kali ini pahitnya bisa kuterima. Ngga lagi terasa mengganggu, aku bisa terus menyesapnya tanpa harus buru-buru minum air putih agar pahitnya hilang. Aku bisa bertoleransi dengan rasa pahit. Wah, aku bisa minum kopi. 

Lidahku sudah bisa menerima kopi. Sayangnya lambungku belum. Masih terasa mules setelahnya. Tapi efeknya ngga separah dulu. Yang kali ini tertahankan. Dibawa boker dia mereda. 

Wah, aku bisa minum kopi. Akulah Rosita, orang dewasa peminum kopi.

Apa karena terbiasa minum es kopi susu pucet ya, lambung dan lidahku lama-lama beradaptasi sehingga akhirnya bisa menerima kopi yang masuk? Kopi sekarang bisa kunikmati dengan senang. Nyaman di lidah, ramah di lambung. Masih ada terasa sedikit getir, tapi di dompet. Kalau benar karena es kopi susu pucet, aku jadi merasa bersalah karena udah bilang dia ngga ada kontribusinya. Huhu, maafkan aku ya es kopi susu pucet.

Senin, 28 Desember 2020

Sumpah, Nyesel!

Petttt!

Suasana mendadak gelap. Semua perangkat yang bersumber energi listrik tiba-tiba meregang nyawa. Mati.

"Aaaa, file gue belum disave!!!"

"Aaaa, hape gue lowbat belum dichas!!!"

"Aaaa, filmnya mau mulai ya?"

"Lu kata bioskop woiii!!!"

Hari itu, pemadaman listrik menimpa sebagian besar wilayah Jakarta, termasuk kantorku. Berhubung hampir semua aktifitas kerja di lantai tiga dan empat menggunakan komputer, maka mati listrik berarti mati gaya. Di kantor ada jenset sih, tapi masih dalam bentuk rencana, jadi belum bisa dipake. Ngga banyak yang bisa dilakukan di tengah ruangan gelap dan perangkat kerja yang ngga bisa nyala selain beberes dokumen, main tebak bayangan dilatari senter hape, atau mengadakan doa bersama semoga teknisi PLN bergerak cepat.

Ngga berapa lama, telepon di ruanganku bunyi.

"Halo?" Aku mengangkat telepon.

"Sita, Sita, ke lantai tiga sini, Mami lagi cerita serem!" Terdengar suara Dini, temanku penghuni lantai tiga. Mami itu senior manajer lantai tiga dan lantai empat. Bisa dibilang kepala suku kami. Sesepuh. Ketua geng. Ibu kita. Kalau Ibu kota itu Jakarta.

"Iya?? Waaaa, nanti aku turun deh!" Kataku bersemangat. Aku memang punya ketertarikan dengan cerita-cerita mistis. Kombinasi yang aneh sebenernya, gampang ketakutan tapi doyan cerita mistis. Biarlah, seengganya ngga seaneh orang yang getol ngajakin ngumpul tapi pas hari H tiba-tiba bilang ngga bisa dateng di last minute. Sumpah, itu aneh banget.

Di ruangan lantai tiga, nampak teman-teman yang lain sudah duduk melingkar mengelilingi Mami di tengah-tengah, macam anak pramuka lagi ngelilingin api unggun di acara Persami. Suasana mencekam, gelap dan sunyi. Di ruangan ini ngga ada jendela yang mengarah langsung ke luar, maka ketika listrik mati, lagi melek pun rasanya kayak lagi merem saking gelapnya. Untunglah ada sedikit remang cahaya dari layar hape.

"Sini Sita, duduk sini!" Dini menyilakan aku duduk di sebelahnya. Aku duduk, ikut menyimak Mami yang sedang bercerita tentang gangguan-gangguan mistis di rumahnya. 

Mami bercerita dengan suara rendah, nyaris seperti bisikan. Bikin indeks keseraman ruangan naik melebihi ambang batas normal.

"..pembantu Mami sering tuh digangguin. Pernah waktu itu dia lagi mandi, terus tiba-tiba ada suara orang bisik-bisik di telinganya. Was wes wos gitu.."

Hening. Semua nampak serius menyimak Mami.

"Adek Mami malah ngeliat, sosoknya gede, berbulu, badannya kurus sampai bentuk tulangnya keliatan. Pas adek Mami lagi tidur, itu makhluk iseng ngedudukin adek Mami!"

Di tengah cahaya yang temaram, tampak raut-raut wajah yang menegang. Beberapa mencengkeram lengan teman sebelahnya.

"Bokapnya Mami juga. Lagi di dapur. Tiba-tiba aja muncul p***ng di depannya. Ngga cuma satu lagi. Tiga!!!!"

(Catatan : btw paham kan yah p***ng yang aku sensor maksudnya apa. Yang jelas bukan pisang. Di lingkungan teman-temanku, ada kecenderungan untuk menyamarkan nama-nama penghuni dunia sana karena kami manusia-manusia bernyali sebesar upil dibelah tujuh punya ketakutan untuk menyebut namanya. Takut mereka berasa dipanggil. Awalnya p***ng kita samarkan jadi Mr. P, tapi temanku bilang sebutan Mr. P udah dipake duluan sama Dokter Boyke buat hal lain. Takut ambigu. Jadi ya sudah, kusensor aja.)

Macam api yang makin dikipas makin besar, serupa itulah Mami bercerita. Wajah ngeri tegang penyimaknya membuat cerita Mami makin lama makin seru dan dramatis, bikin bulu kuduk berdiri lebih tegak dari pasukan pengibar bendera pas tujuh belasan di Istana Negara.

Mendengar cerita Mami, perasaanku lama kelamaan mulai ngga enak. Aku bergidik,  ngga nyaman dengan suasana di sini. Demi kesehatan jiwa dan keselamatan rohaniku, akhirnya aku putuskan untuk kabur, kembali ke ruanganku sendiri.

Malamnya, aku nyesel karena ninggalin cerita Mami. Nyesel. Kenapa ngga ninggalin lebih awal????? Sensasi ngerinya masih tertinggal di perasaan. Mensugesti suasana sehingga aura kamar serasa jadi lebih mencekam. Malam jadi meresahkan. Rasanya ingin cepat-cepat jatuh tidur biar cepat-cepat malam berubah pagi. Tapi yang terjadi justru kebalikannya. Aku ngga bisa tidur.

Aku ngelihat jam. Udah hampir jam setengah 1. Ngga bisa gini terus. Besok aku masih harus bangun subuh dan kerja. Aku harus tidur. Maka demi kantung mata tidak menebal macam bapak mantan presiden yang sudah mengeluarkan banyak album, aku memutuskan untuk ngungsi tidur. Aku bawa selimut dan hape lalu pindah tidur sama Mamah. Hape aku taro di meja deket kasur supaya kedengeran kalau alarmnya bunyi. Ngga berapa lama, akhirnya aku bisa tidur.

"...andaikan detik itu (aaaa) kan bergulir kembali (aaaa).."

Sayup-sayup di tengah tidurku aku mendengar suara lantunan lagu Ada Band. Aku kebangun dan ngelihat jam. Jam 3 lebih. Jam segini suara lagu dari mana sih? Orang makan krabby patty jam 3 pagi aku bisa maklum, lah nyetel musik?

Awalnya aku kira itu suara tivi yang sedang ditonton kakak iparku. Dia memang suka kebangun larut malam dan nonton tivi sebentar sebelum lanjut tidur lagi. Tapi kayaknya bukan dari tivi. Suaranya kenceng soalnya, deket banget. Aku pun coba mencari dari mana sumber suara.

Ketemu.

Aku menelan ludah.

Suaranya berasal dari hapeku yang tergeletak manja di meja. Iya, dari hape. Hape yang ngga berbunyi sama sekali sebelum aku tidur. Hape yang tiba-tiba mp3-nya nyala sendiri jam 3 pagi. Iya. Mp3. Nyala. Sendiri.

MP3. NYALA. SENDIRI.

Sialan. 

Dari sekian banyak peserta uji nyali yang ikut kenapa isengnya ke mari sih??

Minggu, 20 September 2020

Favorite Movie

Aku ngga suka film City of Angel. Rasa kesal yang muncul setelah menontonnya tertinggal cukup lama. Bikin sebel. Dalam hatiku ngga bisa berhenti misuh-misuh. Apa-apaan ending macam itu. Penulis skenarionya ini apa nilai ulangan PPKn-nya di bawah standar ya, kok bisa bikin cerita yang melenceng dari nilai tenggang rasa. Jahat dan ngeselin sekali ceritanya. 

Film ini menceritakan tentang malaikat (diperankan Nicolas Cage) yang jatuh cinta sama manusia (si Meg Ryan). Detailnya aku ngga terlalu ingat karena ngga sudi nonton lagi. Pokoknya setelah melalui pergolakan dan pertentangan, si malaikat pun memutuskan untuk jadi manusia demi pujaan hatinya. Bhay kehidupan syurgawi dan hidup abadi. Tapi baru juga sehari, baru aja sebentar mereka bisa sama-sama, Meg Ryan, pujaan hatinya meninggal. Meninggalnya pun menurutku konyol sekali. Meg Ryan yang bersepeda tanpa helm dan tanpa pengaman apa-apa, berkendara secara ngga fokus karena bahagia terlena bunga-bunga asmara, banyak gaya di sepeda, meleng ngga lihat jalan, kemudian meninggal karena ketabrak entah apa aku lupa, truk atau mobil.

Ingin menghujat.

KESEL NGGA SIH??? 

Cinta bikin buta aku udah tau. Tapi bikin sembrono sampai melalaikan keselamatan berkendara itu hal baru buatku. Teledor sampai celaka gitu lho, ya Allah, ngingetnya lagi sekarang pun aku masih kesal. Pengen noyor. MAKANYA JALAN YANG BENER, LIHAT DEPAN, JANGAN MELENG. HIH 

Dari City of Angels aku sadar kalau ternyata aku ngga suka dan ngga bisa nonton film-film sedih. Emosinya kebawa lama ke perasaan. Bikin moodku jadi ngga enak. Maka aku lebih condong pada film yang bergenre aksi, komedi, fantasi, dan terutama animasi. Salah satu film kesayangan yang membuat perasaanku dipenuhi rasa senang dan dengan suka hati kutonton lebih dari sekali adalah Klaus. 

Bercerita tentang Jesper, anak petinggi kantor pos yang akhlaknya kurang terpuji. Mentang-mentang ayahnya punya jabatan, dia jadi jumawa dan malas. Ayahnya murka dan mengirim Jesper ke suatu daerah terpencil untuk jadi petugas pos di sana. Jesper diberi target untuk mengirim 6000 pucuk surat dalam setahun. Kalau target gagal terpenuhi, ia terancam dicoret dari KK oleh ayahnya dan harus mengucapkan dadah pada kekayaan juga harta warisan. 

Smeerensburg, daerah tempat Jesper dikirim bukanlah daerah pemukiman normal pada umumnya dimana setiap warga akur bertetangga kumpul pengajian tiap minggu. Di sana terdapat pertikaian dua keluarga besar yang sudah berlangsung panjang, yang mengakibatkan suasana kampung jadi sangat ngga kondusif. Dua kubu selalu panas. Ribut mulu kerjaannya, kalau sehari ngga berantem kena panas dalem kayaknya. Ngga ada tukang pos yang bertahan lama di sana, semuanya balik kanan bubar jalan. Target 6000 surat per tahun sungguhlah berat sekali bagi Jesper. Namun dari situlah cerita berjalan.

Dah lah film ini terlalu bagus untuk hanya diceritakan. Nontonlah. Rasakan senyum sukacita yang tersungging tiba-tiba dan rasa hangat yang perlahan menyeruak di dada. Jangan lupa tetap ingat aturan berkendara. 

-20 September 2020-



Sabtu, 19 September 2020

Single and Happy

Aku punya teman, sebut saja T, untuk perihal asmara dia ngga bisa sendiri. Selalu butuh pasangan atau setidaknya teman bercerita untuk menemani. Dia dekat dengan keluarganya. Teman pun banyak. Namun tetap aja rasanya beda katanya. Ada ruang dalam hatinya yang butuh diisi, di luar ruang untuk teman dan keluarga. Kadang dalam satu waktu dia dekat dengan banyak orang. Aku selaku teman dekatnya seringkali kepusingan. Kalau dia sedang cerita, yang dia ceritain ini laki yang mana lagi, yang punya laundry, yang kenal dari game, apa yang match di biro jodoh?

Ada lagi temanku, si I, yang dari lahir sampai sekarang tulisan ini diketik, status asmaranya masih sama. Single. Berulang kali kami selaku temannya mencoba bergerak dalam misi percomblangan, tapi semuanya gagal. Ada yang deketin dianya ngga acuh. Ada yang chat dibalas sekadarnya. Ada yang ngasih pisang nugget kami yang girang dan makan banyak. Sampai akhirnya nyerah lah kita. Capek. Dianya terlihat belum ada minat ke arah sana. Berkebalikan dengan T, I belum menyiapkan ruang lain selain untuk teman dan keluarga. 

Dua-duanya berbeda. Dua-duanya punya pandangan yang berlainan. Tapi sejauh yang kulihat, dua-duanya punya kesamaan. Mereka bahagia. T terlihat senang bercerita tentang kencannya semalam menyusuri pemandangan Jakarta malam dengan cem-cemannya entah yang mana lagi. I pun setiap hari selalu gembira, menyanyikan lagu idola kesukaannya sambil joget-joget. 

Punya pasangan emang bahagia, tapi rasanya terlalu picik kalau akhirnya dianggap jadi satu-satunya syarat untuk berbahagia. Bukankah bahagia punya banyak jalan untuk datang? Bisa dari lulus kuliah tepat waktu, dibawakan kue sepulang Mama dari pasar, diterima kerja setelah lama menganggur, atau idola favorit mengeluarkan video musik baru. Berpasangan dan bahagia? Bisa. Single dan bahagia? Bisa juga. Menjatuhkan orang dan bahagia? Itu yang bahaya. 

-19 September 2020-
Kamis, 17 September 2020

Places I Want to Visit

Ngga banyak tempat yang sudah aku kunjungi. Aku ngga akan tersinggung kalau ada yang bilang mainku kurang jauh karena ya memang kenyataannya begitu. Keluar negeri baru dua kali. Satu ke Australia, tapi sedikit sekali yang bisa diingat, karena kala itu aku masih pake pampers. Satu lagi ke Bekasi.

Februari lalu, temanku dapet kode potongan harga untuk menginap di Oyo dan Reddoorz. Setelah kami hitung-hitung, ternyata potongannya lumayan. Bukan lumayan lagi, bikin ternganga malah. Kalau dibagi satu kamar berdua, harga kamar standar ngga lebih dari paket double big mac per orangnya. Kami yang tadinya ngga punya wacana ke mana-mana pun tergiur.

Disusunlah rencana. Karena ngga ada tanggal merah dan mustahil cuti rame-rame, kami putuskan ke Bogor aja yang dekat. Ngga terlalu jauh, bisa terjangkau KRL, dan secara geografis udah terhitung luar Jakarta, jadi bisa pamer liburan ke luar kota. Dicarilah penginapan di daerah Bogor yang lokasinya strategis, yang dekat dengan tempat nongki-nongki cantik. Agenda dirancang. Tanggal pun ditetapkan pada akhir Februari.

Ngga berapa lama, berita baik datang. Seorang teman memberi kabar beserta sepucuk undangan. Dia akan menikah. Lokasi acaranya di Tegal. Tanggalnya ngga berselisih jauh dari agenda jalan-jalan yang kami rencanakan. Atas nama pertemanan bagai kepompong, kami pun merombak ulang rencana kami. Jalan-jalannya tetap jadi, hanya tujuannya yang berbelok. Dari Bogor ke Tegal.

Pergi dari Jakarta Sabtu sore, sampai Tegal dini hari, tidur menjelang subuh, pagi menghadiri undangan, sore berangkat pulang. Capek meresap masuk sampai ke sumsum tulang. Hasrat jalan-jalan belum terpuaskan sama sekali karena terkendala waktu yang sempit. Di perjalanan pulang, tercetuslah ajakan untuk jalan-jalan lagi bulan depan, meneruskan rencana kita yang lalu untuk ke Bogor. Tanpa pikir panjang, kami sambut dengan penuh setuju. 

Namun hidup seringkali ngga bisa diduga. Benarlah bahwa manusia hanya punya daya untuk berencana tanpa punya kuasa apa-apa untuk menentukan bagaimana akhirnya. Belum sempat rencana kami terlaksana, pandemi melanda. Terpaksa tertunda entah sampai kapan. Ahli nujum ternama pun rasanya kesulitan membuat perkiraan tepat.

Tempat yang ingin kukunjungi banyak sekali. Lombok, Jogja, Bali, New Zealand, Jepang, Korea Selatan, Inggris, Belanda, dan Islandia. Tapi entah harus menghitung berapa hari lagi dari sekarang, mungkin hingga satuan bulan atau bahkan tahun, saat nanti datang hari ketika pandemi ini selesai sepenuhnya dan bepergian sudah bisa dilakukan dengan leluasa, yang ingin aku lakukan adalah meneruskan lagi rencana dulu untuk jalan-jalan ke Bogor, bersama dengan orang-orang yang sama. Kalau bisa dengan potongan harga yang sama pula.

-17 September 2020-
Rabu, 16 September 2020

Memory

Ngga banyak yang bisa kuingat dari Aki, kakekku. Hanya selintas ingatan kabur yang detailnya samar. Mencoba mengingatnya rasanya seperti memperbesar foto ukuran kecil yang resolusinya rendah. Semakin coba diperjelas malah semakin pecah. Namun ada satu hal tentangnya yang lekat membekas sampai sekarang, yaitu permen fox's bening.

Sejauh yang kuingat, Aki selalu menyimpan sekaleng permen fox's bening. Letaknya ngga pernah berubah, di lemari buffet paling bawah. Sangat terjangkau untuk ukuranku dulu yang tingginya ngga beda jauh dengan panjang guling. Mamaku bilang itu permen orang dewasa. Rasanya terlalu pedas untuk anak-anak, katanya. Tapi aku suka. 

Pedasnya bukan pedas cabai yang bikin seuhah berkepanjangan. Pedasnya sejuk dalam mulut. Apalagi kalau setelahnya minum air, wiih, serasa minum air dingin. Segera saja menjadi salah satu hal yang aku sukai di rumah Aki. 

Namun cuma sampai pertengahan SD. Aku kelas 4 waktu itu. Sebagaimana semua hal sudah tertulis dalam catatan-Nya, Tuhan sudah tetapkan garis hidup Aki cukup sampai disitu. Rumah itu mulai terasa berbeda. Ngga ada lagi yang mengisi kaleng permen. Di lemari buffet paling bawah hanya tersisa ruang kosong.

Tahun-tahun terlewat, aku tumbuh dan berubah. Bukan lagi anak kecil berponi yang senang mengemut permen. Permen fox's pun berubah. Varian beningnya sekarang sudah jarang lagi kulihat, digantikan varian warna-warni dengan tambahan perasa buah. Sekali waktu saat timbul rasa ingin mengenang, aku membelinya. Tapi rasanya beda, bukan seperti yang dulu kuingat.

Waktu berjalan. Hidup bergerak. Banyak hal berubah. Namun yang selalu tetap sama, baik dulu maupun sekarang, permen fox's bagiku bukan hanya sekadar gula-gula segar menyenangkan. Permen itu sudah terasosiasikan sebagai kenangan yang menyimpan satu nama. Permen itu menjadi pengingat kalau kakekku pernah ada, menyediakan kumpulan rasa senang yang terbungkus dalam kaleng.

-16 September 2020-
Selasa, 15 September 2020

Things That Makes Me Happy

Hal apa yang membuatku bahagia?

Entah ya, hidup di tengah pandemi panjang tanpa kejelasan kapan selesainya ini bahkan membuatku lupa, kapan terakhir kali aku merasa bahagia? Kalau sekadar ngga merasa sedih hampir setiap hari aku merasakannya, tapi apakah itu bisa disebut bahagia? Rasanya ngga. Kalau bahagia adalah suatu perasaan dengan nilai A+, maka perasaanku sehari-hari mungkin hanya senilai B-. Ngga merah, ngga butuh remedial, tapi juga ngga setinggi itu untuk bisa dikatakan bahagia. Sekadar cukup baik.

Pandemi ini sialan memang. Gara-gara dia, banyak hal yang tadinya membahagiakan sekarang malah jadi terasa membahayakan. Jalan-jalan ke Mall, misalnya. Dulu meski yang dilakukan cuma berkeliling tanpa tujuan jelas mau ke mana, keluar masuk toko mencoba-coba barang tanpa beli apa-apa, mencari jajanan yang harganya sedang ada potongan, atau memesan menu yang itu-itu terus dari restoran kesukaan, tapi melakukannya selalu jadi semacam penghiburan setelah satu hari melelahkan mengurusi pekerjaan. Memberi peningkatan pada nilai rasa senang. Sekarang boro-boro. Membayangkannya saja bergidik. Memaksakan pun bukannya bahagia malah jadi waswas. Kesehatan diri dan sekitar terlalu mahal untuk dipertaruhkan hanya demi kesenangan yang sebentar.

Jadi untuk saat ini, apa hal yang bisa membuatku bahagia?

Uang ngga bisa membeli kebahagian, katanya. Tapi setelah menjalani hidup dengan status sebagai pengangguran, bisa kukatakan kalau kayaknya pernyataan itu butuh direvisi karena di situasi sekarang terasa sangat tidak valid. Uang ngga selalu bisa membeli kebahagiaan, tapi seringkali bisa. Menghadapi pandemi dengan adanya pemasukan secara rutin tentu akan terasa lebih membahagiakan daripada ngga ada sama sekali. Seengganya bisa checkout-checkoutin beberapa barang di keranjang belanja buat ngisi waktu luang. 

Jadi salah satu hal yang bisa membuatku bahagia saat ini adalah segera dapat pekerjaan. Rindu sekali rasanya melihat penambahan nominal saldo pada rekening. Rindu merasakan sensasi jadi sultan setiap bulan. Doakan ya, semoga secepatnya didekatkan dengan rejekiku biar suara abang pengantar paket segera terdengar lagi.

-15 September 2020-





Senin, 14 September 2020

Aku dan Dendam

Entah benar secara kebetulan atau hanya sekadar barnum effect atau memang kenyataannya begitu, tapi ketika dikatakan penyandang zodiak scorpio adalah orang-orang yang penuh berisi emosi, aku ngga bisa menahan diri untuk ngga bersorak setuju, setidaknya dalam hati. HEI TEPAT SEKALI KOK BISA TAHUUUU. 

Manusia adalah ruang dari sekumpulan emosi yang bergantian datang secara bergiliran, dan aku (entah ya scorpio-scorpio lain) memanifestasikan keberadaan seluruh emosi secara penuh, dalam hati juga dalam ekspresi. Dalam sukacita, tawaku ramai bagai kembang api perayaan yang merentet panjang seolah lupa kata usai. Dalam duka, aku mengisi paru-paruku dengan kesedihan hingga lara yang lebih berat dari udara membuat nafas terasa sesak. Dalam rasa murka, amarah menjadi tiran yang melumpuhkan emosi lain untuk memastikan hanya dia penguasa tunggal. Dalam sakit hati, rasanya tekanan darah langsung merosot rendah kalau luka ngga dikonversi jadi dendam.

Iya, scorpio juga katanya pendendam, yang lagi-lagi tepat juga padaku. Aku memendam dendam dengan dalam. Aku pelupa, tapi perihal luka, meski sudah jadi bekas aku sulit lupa. Triggered berat bagi jiwaku adalah ketika nonton ftv azab indosiar dimana si protagonis memaafkan bahkan menolong antagonis yang rutinitas hariannya selain makan tiga kali sehari adalah ngejahatin si protagonis itu. Hih. Ngga masuk dalam kepalaku. Hati apa lintasan balap karung sih, lurus lurus amat. 

Hidup adalah rangkaian sebab akibat. Kalau pada akhirnya si antagonis menderita, ya itu akibat dari sebab kejahatan yang dia lakukan. Seengganya abaikan saja lah, biar dia cicipi rasanya karma dan diri nikmati manisnya balas dendam. Eh dia malah melepas kesempatan untuk merasa puas dengan ngasih pertolongan. Rasanya kayak dapet voucher cashback dan gratis ongkir tapi pas belanja lupa dipake. Gemas sekali. Tapi ya sudahlah, hidup hidup dia, keputusan dia. Mungkin dengan memaafkan, dia menikmati perasaan lain yang aku ngga mengerti. Perasaan yang ngga hanya perihal memberi kenyang pada ego. Perasaan yang masih aku pelajari. 

-14 September 2020-
Senin, 22 Juni 2020

Yang Lagi Makan Jangan Baca Dulu!

Di kantorku yang dulu, manusia-manusianya dibagi menjadi dua kubu. Pembagian kubu ini ditentukan bukan dari tingkat jabatan, derajat pemasukan, ukuran pendidikan, asal kesukuan, ataupun anutan kepercayaan. Sama sekali bukan. Kubu-kubu ini dibagi berdasarkan intensitas aktifitas pencernaan, yaitu kubu jarang boker serta kubu sering boker.

Penganut kubu jarang boker cenderung chill dan santai. Hidup nrimo, ngga neko-neko. Whatever will be, will be. Mereka ngga suka memaksakan keadaan, sebagaimana mereka ngga pernah memaksakan aktivitas pencernaannya sendiri. Ngga mules ya ngga usah maksain boker. Semua akan datang pada waktu yang tepat, termasuk rasa mules. Begitu prinsipnya.

Berlainan dengan kubu seberang, kubu sering boker memiliki sebuah pedoman hidup bahwa boker adalah kunci ketenangan batin. Boker bukan sekadar proses pelepasan residu sisa pencernaan, melainkan ritual wajib yang kalau satu hari aja ngga dilakukan, jiwa dipenuhi kegelisahan. Belum ada dorongan? Ya paksakan. Pancing pake pepaya, sayuran, atau denger Barbie Kumala nyanyi live. Secara sifat, mereka cenderung keras dan ambisius. Ngga ada kompromi. Mau ya harus. Titik.

Karena prinsip hidupnya itulah kubu sering boker cenderung memandang rendah kubu jarang boker. Boker ngga rutin tiap hari itu rasanya hal yang hina sekali, lebih hina dari orang yang diajak patungan jajan ngga mau, tapi pas makan ikutan. Paling banyak pula. Bagi mereka, segala permasalahan hidup itu bersumber dari satu akar, yaitu pencernaan yang kurang lancar. Orang-orang dengan emosi mudah tersulut, temperamen lekas naik, dan kesabaran setipis plastik laminating itu bukan karena kurang piknik, tapi karena kurang boker.

Ada orang ngutang tapi pas ditagih galakan dia? Pasti lagi sembelit!

Ada pasangan ketauan selingkuh tapi malah dia yang marah-marah? Pasti  sedang konstipasi!

Ada pemotor lawan arah pas keserempet mobil malah dia yang nyolot? Pasti kurang makan sayur!

Aku sendiri masuk ke dalam kubu susah boker. Kasta terbawah pula, yang kesenjangan waktu antar bokernya paling jauh. Sedih. Sapaan yang kadang kuterima dari kubu sebelah bukanlah "halo", "hai", atau "selamat pagi" seperti sapaan normal pada umumnya, melainkan pertanyaan, "udah ngga boker berapa hari lu?". Kabar bokerku lebih mengundang tanya dibanding kabarku secara keseluruhan. 

Curhat pada mereka pun kadang bukannya dapat solusi tapi ujung-ujungnya malah penghakiman atas kinerja ususku yang bagi mereka di bawah standar. Seperti saat aku curhat pada salah satu petinggi teratas kubu sering boker tentang hubunganku dengan (mantan) pacar yang sedang kurang baik. Tiba-tiba aja dia ngilang ngga ngasih kabar, kayak karyawan resign mendadak.

Alih-alih pukpuk di pundak, respon yang kuterima adalah "Lu jarang boker sih, dia ilfeel kali". Saat itu juga baru aku tau cinta bisa diukur dari intensitas boker pasangan.

Atau waktu aku harus operasi usus buntu karena usus buntuku bengkak. Saat kembali masuk kantor, yang kuterima bukan ucapan simpati beserta sekeranjang buah, tapi (lagi-lagi) petuah perbokeran. 

"Kak Sita kan jarang boker, itu gara-gara tai yang ngga keluar kali tu, dia numpuk, terus ada yang nyangkut di usus buntu, makanya dia bengkak". 

Seketika kenangan usus buntu kemarin berkelebat di kepala. Ya Tuhan, segala kesakitan yang aku rasakan sampai harus dioperasi, luka jaitan yang nyerinya bikin bersin aja jadi derita, masa iya gara-gara seonggok tai? Nista banget kayaknya jarang boker. Kalau gini aku mau pindah kubu aja dah rasanya!

Nb: Ini sebenarnya tulisan lama yang dari dulu kusimpan doang di draft. Tiap mau posting ragu-ragu gitu, karena ceritanya yang agak jorok takut mencoreng citraku sebagai wanita anggun, elegan, dan berkelas. Namun setelah kini kupikir-pikir boker kan manusiawi ya, seanggun dan secantik Yoona SNSD pun pasti boker juga. Yakan punya usus. Cuman yang kita ngga tau, Yoona masuk kubu mana ya dia? 

Kamis, 04 Juni 2020

(Fiksi) Dunia Aladita - 5

Senin, 4 Februari 2019

Ada kabar baik dan kabar buruk hari ini. Kabar baiknya, ulangan biologi hari ini sukses! Yes yes! Percaya diri nih aku, minimal 70 mah dapet lah. Ruri memberi catatan pada aku dan Joan tentang mana-mana aja yang kemungkinan keluar berdasar kisi-kisi dari Bu Eka. Hampir sebagian besar keluar di soal. Sisanya aku lupa. Biarlah, nilai sempurna itu biar jadi bagian Ruri.

Kabar baiknya lagi, acara menginap hari Sabtu kemarin seru sekali, serasa piknik. Kami bikin acara bakar-bakar di pekarangan, ditemani kak Nico, kakak Joan yang juga ngga ikut ke Malang. Setelah menghabiskan banyak jagung, sosis, ayam, dan daging sampai bergerak aja sulit karena kapasitas perut yang penuh, kami duduk-duduk santai di pekarangan, diiringi suara dan alunan gitar dari Kak Nico. Syahdu sekali. Baru besok paginya aku dan Joan (yang dibangunkan dengan penuh perjuangan oleh Ruri karena sulitnya kami berdua melepaskan diri dari dekapan guling) belajar untuk persiapan ulangan.

Menginap di rumah Joan membuat aku melihat secara dekat hubungan antara Joan dan Kak Nico. Sebagai kakak, Kak Nico ini baik banget. Aku jadi iri pada Joan. Beruntung sekali dia. Andai aku juga punya kakak laki-laki yang suaranya bagus, jago main gitar, bisa nyetir mobil, bisa potong ayam, bisa bakar sate, bisa cuci piring, mau buang sampah, mau jajanin bubur ayam, dan ngga takut kecoa, pasti membahagiakan sekali. Tapi apa daya yang aku punya adalah Ale, adik laki-laki yang kesulitan ngomong R, masih belajar untuk lepas pampers, dan yang terburuknya, manipulatif.

Nah ini dia kabar buruknya. Aku sama sekali ngga nyangka, untuk ukuran balita yang membaca saja belum lancar, Ale punya akal yang sangat cerdik menjurus ke licik. Insiden terinjaknya mainan Ale tempo hari yang membuatku harus membelikan mainan baru itu ternyata sama sekali bukan kecelakaan atau ketidaksengajaan, melainkan sebuah taktik terencana. Itu semua trik!!

Tadi secara ngga sengaja aku menyaksikan sepak terjangnya dengan mata kepalaku sendiri. Ale menyelipkan hot wheelsnya yang sudah lama ke bawah karpet, bermain dengan anteng di dekat situ sambil menunggu ada yang lewat, lalu ketika Ayah lewat dan menginjak hot wheelsnya, dia menangis dan meminta dibelikan hot wheels baru beserta lintasannya. Setelah Ayah mengiyakan, baru Ale berhenti menangis. 

Astaga

Jadi itu semua disengaja. Sebuah trik untuk dapat mainan baru. Aku dan Ayah sudah terjebak taktiknya. Aku ngga percaya. Anak usia tiga tahun bisa punya akal bulus semulus itu. Sukses pula, berhasil mengadali orang dewasa berkali-kali lipat dari usianya. Entah Indonesia harus bangga atau waswas punya generasi penerus masa depan bangsa seperti Ale.

Tapi ngga bisa kupungkiri, keberhasilan Ale membuatku tergoda untuk mencobanya juga. Taktik Ale dulu membuatku kehilangan isi dompet, jadi ngga papa dong kalau aku meniru triknya. Hitung-hitung sebagai ganti rugi. 

Aku pun mencoba trik yang sama, menyelipkan lip gloss berwarnaku yang sudah hampir habis ke bawah karpet. Pas sekali, ngga lama Ibu lewat, menginjak lip glossku sampai terdengar bunyi "kraaak". Yes, Ibu terjebak! Aku menghampiri Ibu sambil marah-marah dan meminta ganti dibelikan yang baru. Berhasilkah? 

SAMA SEKALI NGGA. 

GATOT ALIAS GAGA TOTAL. 

Ibu malah balik memarahiku katanya salah sendiri naruh barang sembarangan, kok bisa-bisanya ada disitu, nyimpan sesuatu harus yang rapi di tempatnya, udah besar jangan sembrono, belajar rapi, bukannya bantu Ibu beberes malah ngeberantakin asal naruh barang, nanti kalau hilang Ibu lagi yang ditanya disuruh cari, bla bla bla bla... Panjang lah jadinya. Lebih panjang dari amanat Pembina di upacara bendera. Sampai kesalahanku yang lalu-lalu pun turut dibahas. Menyesal aku ngikutin Ale.
Kamis, 21 Mei 2020

(Fiksi) Dunia Aladita - 4

Jumat, 1 Februari 2019

Setelah dua hari menghambakan diri menjadi pesuruh Ibu yang siap diperintah apa saja dari belanja, cuci piring, nyapu, ngepel, sampai jagain Ale, akhirnya aku mendapat izin resmi dari Ibu agar boleh menginap di rumah Joan besok (kerja bagus, otot-ototku. Kalian sudah berusaha keras. Aku bangga). Besok katanya orangtua Joan harus pergi ke Malang menghadiri acara nikahan kerabat dan kemungkinan pulang Minggu malam. Joan disuruh di rumah saja buat belajar karena Seninnya kami ada ulangan Biologi. Jadi Joan ngajak aku dan Ruri buat nginep di rumahnya, nemenin sekalian belajar bareng.

Joan dan Ruri adalah sahabatku. Joan nama aslinya Joanita. Waktu kecil nama panggilannya itu Ani, tapi katanya dulu ada bocah iseng yang suka ngeledek dia sebagai pacar Roma Irama. Tiap kali Joan lewat, bocah itu pasti menyanyikan lagu Ani dengan keras. Joan sebal, dan memutuskan mengganti nama panggilannya jadi Joan. Kadang aku dan Ruri iseng manggil dia dengan nama Ani, tapi mengingat sabuk karatenya yang sekarang sudah warna hitam, kami merasa nyawa kami tak pantas dipertaruhkan hanya untuk melihat wajah cemberut Joan, jadi kami menurutinya untuk memanggil dengan nama Joan. Selain karate, Joan juga suka hal-hal penyebab keringat lain seperti lari, badminton, dan basket. Terkadang ia meneleponku pagi-pagi untuk mengajak jogging, tapi yang benar saja, selimutku terlalu posesif.

Sahabatku satu lagi namanya Ruri. Dia suka membaca. Benar-benar suka membaca. Beda denganku yang ranah bacaannya hanya seputaran novel dan komik. Brosur yang dibagikan di mall, keterangan ingredients di belakang snack, spanduk tepi jalan, segala hal dia baca. Pernah ketika sedang naik ojek, dia menyuruh abangnya ngebut mengejar pengendara motor jauh di depannya. Menyangka telah terjadi suatu kejadian yang mungkin bersinggungan dengan kriminalitas, Abang ojek menyanggupi permintaan Ruri. Adegan kejar-kejaran ala film terjadi. Abang ojek mengebut, menyalip-nyalip, sampai menelusup di antara sela-sela kendaraan lain. Sungguh mendebarkan. Setelah terkejar dan berhasil merendengi pengendara itu, yang terjadi ternyata Ruri hanya mau membaca tulisan di kaos Dagadu yang pengendara itu pakai. Antiklimaks. Abang ojek itu? Sekarang dia jadi ojek langganan Ruri. Entah sudah berapa banyak misi pengejaran kaos Dagadu yang mereka lakukan. 

Ngomongin Ruri, aku jadi teringat kalau aku punya kenangan ngga mengenakkan yang secara ngga langsung berkaitan dengan dia. Dulu waktu bagi rapor kenaikan kelas pas SMP, aku ngga sengaja denger Ibu ngobrol-ngobrol sama Mamanya Ruri. Kira-kira begini percakapannya. 

Ibu : Wah selamat ya Bu, Ruri ranking satu lagi. Makan apa sih dia sampai pinter gitu?

Mama Ruri : Ya biasa aja Bu, makan nasi kok. Cuman dia suka banget makan telor ceplok pake kecap.

Gara-gara itu, setiap hari, bener-bener setiap hari, dari Senin sampai ke Senin lagi, Ibu selalu bikinin aku telor ceplok pake kecap. Selalu. Baru berhenti setelah sesosok bisul cantik bertengger anteng di punggungku. Masih terbayang olehku bagaimana pedihnya menjelang bisul itu mau pecah. Hih. Sejak itu aku benci sekali dengan telor ceplok dikecapin. Telor dadar masih enak. Omelet aku suka. Telor gulung itu surga.

Wah udah jam segini. Aku mau siap-siapin bawaan buat besok dulu.

Yang harus dibawa buat nginep :
- baju ganti sama daleman. Yang cakep.
- sikat gigi dan sabun muka. Odol, sabun, sama sampo minta Joan aja.
- piama lucu satu stel. Jangan belang-belang atasannya beruang bawahannya kelinci.
- masker bawa tiga buat maskeran malem-malem.
- make up pouch sama isi-isinya bawa semua.
- cemilan dan minuman. Yang banyak. Joan makannya banyak soalnya. Snack chitata wajib.
- kartu uno buat main. Bedak tabur buat yang kalah ada di make up pouch.
- YA AMPUN BUKU BIOLOGI BUAT BELAJAR LUPA!


Rabu, 20 Mei 2020

(Fiksi) Dunia Aladita - 3

Rabu, 30 Januari 2019

ASTAGA ASTAGA ASTAGA!!!!

Hari ini salah satu hari terbaikku di dunia! DTS, boyband negeri ginseng paling keren sedunia (duniaku seengganya. Mohon maaf ya fandom lain) baru aja meluncurkan mv baru lagi sore ini!!!! Horeeee!!! Tadinya aku pengen pingsan saking senangnya, tapi ngga jadi. Gimana nontonnya kalau pingsan kan, jadi aku ganti loncat-loncat keliling kamar aja.

Aku ngga habis pikir, kenapa personil DTS ini keren-keren sekali??? Waktu menciptakan mereka, pasti Tuhan sedang dalam mood terbaiknya. Terutama saat Jun. Aduh Jun ini.. Sebagai istri onlinenya, aku bangga sekali punya suami seperti Jun. Kalau aku penulis kamus 1 milyar kata Indonesia - Korea, kata ganteng pasti aku terjemahkan jadi Jun dalam bahasa Korea. Gantengnya melebihi standar rupawan manusia biasa. Curiga jangan-jangan dia diciptakan sebagai representasi bidadara surga bagi para manusia bumi. Definisi ganteng yang sesungguhnya.

Tapi selain Jun, entah kenapa belakangan ini perhatianku juga tercondong pada RA, leader DTS, pengisi bagian rap. RA emang ngga seganteng Jun, tapi karisma yang dipancarkan ngga kalah dari Jun. Dia punya auranya tersendiri. Kayaknya apa aja yang dia lakuin meski sekadar senyum doang pun enak dilihatnya. Minta dilimpahi curahan cinta kasih banget. Selain itu, dia juga penuh dengan talenta. Pintar berbicara bahasa Inggris, pandai bikin lagu, jago ngerap.., duh, ngga bisa terbantahkan kalau RA KEREN BANGET!!! Aku sukaaa!!

Duh, seperti inikah rasanya mencintai lebih dari satu orang? Aku ngga bermaksud berpaling dari Jun. Dia ngga hilang, dia tetap suami online kesayanganku dan akan selalu begitu. Tapi aku ngga bisa mengingkari kata hatiku sendiri. Aku ngga bisa membantah ini. Tanpa kusadari, ternyata aku sudah jatuh. Jatuh yang tidak nyeri, tapi membawa rasa dalam hati. Tanpa memperkecil ruang yang ada, aku membangun ruang yang sama lapangnya. Aku jatuh cinta pada RA, tanpa kehilangan cintaku pada Jun. 

Ya ampun, aku terlibat cinta segitiga!

Ya Tuhan, kenapa Kau tempatkan aku pada cinta segitiga seperti ini? Aku mohon, jangan sampai nanti Jun dan RA harus bertengkar karena memperebutkan aku. Aku ngga mau hubungan persahabatan yang sudah begitu erat bagai saudara harus pecah gara-gara aku. Jangan sampai Kau tempatkan aku pada situasi yang mengharuskan aku memilih salah satu dan menyakiti yang lain. Aku ngga mau itu terjadi. Siapapun yang nanti terluka, aku ikut merasakan pedihnya. Untuk saat ini, biarlah aku menikmati rasa yang ada, mencintai lebih dari satu nama dalam satu masa.

Eh tapi kalau begitu, aku harus menyatakan diri sebagai istri online siapa ya? Istri Jun? Istri RA? Atau dua-duanya? Masa di usia 15 aku sudah menerapkan praktek poliandri?

Selasa, 19 Mei 2020

(Fiksi) Dunia Aladita - 2

Senin, 28 Januari 2019

Kalau disuruh menyebut dua hal di dunia ini yang bisa membuatku sebal sampai naik ke ubun-ubun, yang pertama adalah kecoa. Aku benci sekali makhluk itu. Saking bencinya, aku pernah berpikir untuk mengambil jurusan nuklir ketika kuliah nanti dan berencana membuat bom nuklir besar untuk memusnahkan populasi kecoa di dunia. Tapi kemudian aku tahu dari internet kalau kecoa ternyata kebal terhadap nuklir. Syukurlah aku tahu sekarang, sebelum aku benar-benar membuat mumet diri sendiri dengan memilih kuliah di bidang nuklir.

Hal kedua yang benar-benar jadi pemicu untuk aku terkena darah tinggi di usia muda adalah Ale. Dia adikku, usianya 3 tahun. Aku bukan membencinya, ngga. Yang bikin aku sebal adalah perlakuan Ibu dan Ayah padanya. Ale diperlakukan bagai pangeran pewaris tahta terakhir kerajaan. Bagai keramik dari dinasti China jaman dulu. Disayang-sayang sekali.

Pernah waktu itu secara ngga sengaja aku menginjak mobil-mobilan Ale sampai bannya lepas satu. Sumpah, ngga sengaja. Mobil-mobilannya nyelip di bawah karpet, aku ngga lihat. Ale menangis keras. Ibu marah, menyuruhku membeli mobil mainan baru untuk Ale sebagai ganti. Kukatakan aku ngga mau karena aku butuh uang untuk beli merchandise DTS, tapi Ibu ngga mau mengerti dan malah mengancam akan memotongnya sendiri dari uang sakuku. Dengan rasa keterpaksaan yang tinggi, akhirnya aku pergi membeli mobil mainan baru untuk Ale dan menghabiskan waktu setengah jam di hadapan dompetku menangisi merchandise yang batal kubeli.

Dan yang membuatku makin ingin mengepos Ale dengan paket kilat ke Azerbaijan, Ale baru saja menghabiskan lipgloss berwarnaku. Dia memakainya untuk menggambar. Ibu dan Ayah bukannya memarahi Ale lalu menghukumnya untuk menjadi pelayanku seumur hidup, mereka malah membela Ale dengan alasan dia masih kecil, ngga mengerti yang dia lakukan dan memintaku memaafkannya. Reaksiku? Emosiku yang sudah naik ke kepala tentu saja menolak. Aku pergi ke kamarku, menutup pintu, dan segera mencari di internet berapa biaya pengiriman paket ke Azerbaijan.

Tak lama terdengar suara ketukan di pintu. Ternyata Ibu dan Ale di sebelahnya. Dia bilang Ale benar-benar menyesal dan ingin memberi sesuatu sebagai tanda permintaan maaf. Dengan wajah digemas-gemaskan, Ale menyodorkan secarik kertas sambil meminta maaf padaku. Secarik kertas berisi gambar hati. Digambar dengan sesuatu berwarna pink. Lipgloss berwarnaku.

Sial, biaya pengiriman paket ke Azerbaijan mahal sekali.



Senin, 18 Mei 2020

(Fiksi) Dunia Aladita

Minggu, 27 Januari 2019

Astaga. Sudah 15 tahun lebih aku hidup, tapi baru hari ini aku menemukan fakta tak terduga tentang jati diriku. Bermula dari tadi siang. Aku yang sedang sibuk mengulang-ulang *MV terbaru dari *DTS  untuk entah yang ke berapa kalinya biar jumlah viewsnya naik terus, dimintai tolong Ibu untuk ikut bantu beberes gudang. Ingin menolak tapi takut berdampak pada stabilitas uang jajan (yang sedang butuh-butuhnya banget demi album baru DTS), maka mau ngga mau dengan seperempat hati (karena sebagian besar hati sudah teralokasikan buat Jun DTS. Ngga bisa diganggu gugat) aku turun tangan ikut bantu ibu.

Kami membereskan banyak barang. Buku-buku pelajaran lamaku, debu, mainan lama adikku si Ale, debu lagi, peralatan rajut ibu waktu hamil Ale dulu yang diniatkan bikin topi dan sepatu sendiri tapi pembuatannya berhenti di tengah-tengah dan berujung beli juga pada akhirnya, debu lagi, gitar lama Ayah, debu plus sarang laba-laba, dan banyak lagi barang lama lainnya yang sudah ngga terpakai dan keberadaannya kami lupakan. Juga debu.

Di antara tumpukan buku, ngga sengaja Ibu nemuin album foto lama yang isinya foto-fotoku dulu waktu masih bayi polos, suci, lucu, dan tanpa dosa. Gemas, minta disayang. Terbawa nostalgia, Ibu bercerita tentang masa-masa saat hamil aku dulu. Aku lahir di Yogyakarta, kota tempat Ibu dan Ayah sempat tinggal selama beberapa lama karena Ayah ada urusan kerja di sana. Kata Ibu, tangis pertamaku pecah menyapa dunia tepat ketika azan Ashar berkumandang. Lalu ibu mengungkapkan fakta mengejutkan yang bikin aku tercengang. Fakta mengagetkan tentang diriku yang baru Ibu nyatakan sekarang, setelah 15 tahun aku hidup.

Namaku, Aladita Washar, yang kusangka hanya sekadar nama tanpa arti karena ketika kucari artinya dalam situs-situs arti nama di internet hasilnya nihil, ternyata dibuat oleh Ayah dengan makna dan maksud terkandung di dalamnya. Makna yang besar. Tentang jati diriku. 

ALADITA WASHAR. Anakku LAhir DI yogyakarTA WAktu aSHAR. 

Wow.

Kata Ibu lagi, untunglah aku lahir pas waktu Ashar, karena katanya kalau aku lahir di waktu siang hari, rencananya Ayah mau memaknakan namaku jadi Anakku LAhir DI yogyakarTA WAktu SIang haRi. 

Aladita Wasir.

Aku menulis ini sehabis berdoa panjang selepas salat, mengucap syukur sebesar-besarnya pada Allah atas Maha Baik Dia, yang atas belas kasih-Nya menjauhkan aku dari nama yang akan membawa aku pada derita ceng-cengan sepanjang hidup.

Salam,

Aladita Washar yang hampir jadi Aladita Wasir.

*Ket :
Mv : music video atau bahasa Indonesianya video musik.
DTS : boyband korea yang sekarang sedang beken-bekennya. Beranggotakan tujuh orang, yaitu RA, Jun, Saga, J-Hap, Jomin, P, dan Jong Kak.

Rabu, 06 Mei 2020

Cinta yang Dewasa

Kelak aku akan jadi membosankan. Kelak perbincangan denganku tak lebih menarik dari acara talkshow yang lebih banyak bercandanya dibanding sesi bincang-bincangnya. Kelak aku sekadar dianggap ada sebagai bagian dari rutinitas harian. Kelak pesan dariku tak lagi dirasa penting untuk dibalas dengan segera. Kelak cerita tentang bagaimana hariku berjalan akan terkalahkan oleh berita pemenang liga spanyol sebagai hal utama yang ingin didengar.

Lumrah. Bukan karena ada pihak yang salah atau ada hal yang bermasalah. Memang terjadi secara alamiah. Waktu dan keterbiasaan memudarkan debar dan getar tanpa tersadar. Percikan tak memercik selamanya. Terang kembang api hanya sejelalat, nyala api unggun hanya sesaat, pijar puntung rokok hanya sekilat. Segala yang membara akan menemui padam. Semua gelora akan mereda jadi temaram. Segenap yang berharga akan terdepresiasi, seperti nilai aset pada pencatatan akuntasi.

Bukan karena cinta sudah tak lagi di sana. Tidak, cinta tidak hilang. Kupu-kupu dalam perut mungkin sudah pergi entah ke mana, tapi cinta masih turut menyerta. Cinta tetap ada, hanya berubah saja wujudnya. Dia tumbuh mendewasa seiring waktu menuakan usia. Bukan lagi berupa asmara remaja yang penuh romansa. Bukan lagi tentang rasa berbunga-bunga dalam dada. Bukan lagi tentang sipu malu-malu saat perlahan jemari mendekat dan bertemu. Bukan lagi tentang mata yang kesulitan menutup di waktu tidur karena jantung terlalu kencang berdegup mengingat saat bibir saling mengecup.

Cinta berubah, menjadi keinginan untuk terus bertahan meski kenyataan tak lagi menampilkan hal yang indah-indah saja. 

(Serpong, 7 Mei 2020)