Senin, 05 Januari 2026
Mau ke Planetarium Pokoknya!
Jumat, 20 Juni 2025
Yang Ngga Pernah Berubah
Salah satu hal yang kurasa makin sulit dilakukan pada rentang usiaku sekarang, yang sudah masuk ke dalam target pasar dari iklan-iklan Agnes Monica, adalah me-maintain hubungan pertemanan. Apalagi teman lama yang udah terpencar ke banyak arah.
Gimana yah, me-maintain itu kan butuh waktu dan effort ya, sedangkan dewasa ini hampir sebagian besar hidup isinya tanggung jawab, dan itu menyita banyak sekali waktu dan energi.
Ada pekerjaan yang jadi rutinitas harian. Ada keluarga yang butuh diurus. Waktu udah ngga sebebas dulu yang diajak hayuk langsung gas. Kalaupun ada waktu kosong pengennya rebahan aja, karena buat mikirin nanti masak apa aja energi udah kepake banyak.
Yang tadinya rutin berkontak akhirnya mulai jarang. Yang udah jarang akhirnya lama-lama hilang. Masing-masing sibuk dengan hidupnya yang sekarang. Tapi kadang ketika muncul hal-hal yang memicu kenangan, selalu ada ingatan yang datang.
"Film ini dulu kan aku tonton sama Si Ini."
"Ini kan lagu yang sering dinyanyiin sama Si Ini."
"Dulu Si Ini ngefans banget sama artis ini."
Kadang ada muncul keinginan untuk mengirim pesan dan berkontak lagi, tapi aku bingung. Terlalu panjang waktu berlalu. Terlalu banyak hal terlewatkan. Harus mulai dari mana? Apa yang harus aku katakan? Dulu kayaknya apa aja bisa jadi obrolan, sekarang membuka topik aja aku kebingungan.
Tapi beruntungnya ada medsos, dari sana seengganya aku tau sedikit kabar dari mereka. Ada yang baru melahirkan anak kedua. Ada yang sekarang punya hobi lari. Ada yang melanjutkan sekolah ke luar negeri. Ada yang menekuni profesi yang sudah jadi mimpinya dari dulu. Ada yang selalu membagikan hal-hal lucu dan menyenangkan tentang anaknya.
Padahal ngga ikut terlibat dan hanya melihat sekelibat, tapi ada rasa senang ketika tau teman-temanku menjalani hidupnya dengan baik. Sehat, berbahagia, menikmati hidupnya sekarang.
Mungkin sekarang sulit untuk hadir lagi mengulang rasa dan kenangannya. Mungkin obrolan terpanjang saat ini hanya balasan komentar yang berakhir dengan stiker atau emoji. Tapi semua yang udah dijalanin sama-sama masih ada, aku simpan dalam hati dan kepala. Disana kalian selalu sama seperti dulu. Ngga pernah berubah.
Kamis, 12 Juni 2025
Cerita Temanku
Aku bukan orang dengan energi sosial yang tinggi. Temenku ngga banyak, bisa dibilang itu-itu aja. Dibandingkan dengan band Wali aja masih lebih banyak personilnya. Hampir semua temenku pun tipikal yang normal. Yang adem ayem, baik-baik, ngga banyak berkonflik. Ada aneh-aneh pun paling mentok make sendal beda sebelah.
Makanya aku amaze banget ketika ada temen kantorku yang lingkaran sosialnya luas banget, yang kalau bulan puasa ada setahun pun kayaknya bisa tiap hari bukber sama sirkel yang beda-beda saking banyaknya.
Temen-temennya pun beragam, mencakup semua kalangan. Dari tipe-tipe ambis belajar, sampai yang anehnya bikin aku mikir "Oh, orang begitu ternyata beneran ada ya, kirain cerita sinetron doang". Dari yang masyarakat biasa, sampai pas kemaren ada selegram yang beritanya lagi trending, dia tiba-tiba bilang "Eh waktu dia nikahan kan gua dateng tuh."
Widih.
"Set, temen lu macem-macem banget dah. Jangan-jangan lu juga punya temen yang jadi admin judi di Kamboja ya?" aku ngomong asbun aja.
"Iya, emang ada."
"Hah??"
"Yang jadi LC juga ada."
"HAHH???"
"Yang video syurnya pernah viral di internet juga ada."
"HAAAAAHHH???"
Siapa itu Vidi Aldiano??? Harusnya dia nih yang jadi Duta Persahabatan Indonesia.
"Wih, kok.. kok bisa sih punya temen yang beragam macem-macem gitu?"
"Yah.. lu punya banyak temen dulu mbak.."
Anjay.
Singkat, padat, ngga punya banyak temen.
Senin, 28 Oktober 2024
Fase Nakal
Yang Mengesalkan dari Jarak
Kamis, 27 Juni 2024
Tentang Kopi
Senin, 28 Desember 2020
Sumpah, Nyesel!
Petttt!
Suasana mendadak gelap. Semua perangkat yang bersumber energi listrik tiba-tiba meregang nyawa. Mati.
"Aaaa, file gue belum disave!!!"
"Aaaa, hape gue lowbat belum dichas!!!"
"Aaaa, filmnya mau mulai ya?"
"Lu kata bioskop woiii!!!"
Hari itu, pemadaman listrik menimpa sebagian besar wilayah Jakarta, termasuk kantorku. Berhubung hampir semua aktifitas kerja di lantai tiga dan empat menggunakan komputer, maka mati listrik berarti mati gaya. Di kantor ada jenset sih, tapi masih dalam bentuk rencana, jadi belum bisa dipake. Ngga banyak yang bisa dilakukan di tengah ruangan gelap dan perangkat kerja yang ngga bisa nyala selain beberes dokumen, main tebak bayangan dilatari senter hape, atau mengadakan doa bersama semoga teknisi PLN bergerak cepat.
Ngga berapa lama, telepon di ruanganku bunyi.
"Halo?" Aku mengangkat telepon.
"Sita, Sita, ke lantai tiga sini, Mami lagi cerita serem!" Terdengar suara Dini, temanku penghuni lantai tiga. Mami itu senior manajer lantai tiga dan lantai empat. Bisa dibilang kepala suku kami. Sesepuh. Ketua geng. Ibu kita. Kalau Ibu kota itu Jakarta.
"Iya?? Waaaa, nanti aku turun deh!" Kataku bersemangat. Aku memang punya ketertarikan dengan cerita-cerita mistis. Kombinasi yang aneh sebenernya, gampang ketakutan tapi doyan cerita mistis. Biarlah, seengganya ngga seaneh orang yang getol ngajakin ngumpul tapi pas hari H tiba-tiba bilang ngga bisa dateng di last minute. Sumpah, itu aneh banget.
Di ruangan lantai tiga, nampak teman-teman yang lain sudah duduk melingkar mengelilingi Mami di tengah-tengah, macam anak pramuka lagi ngelilingin api unggun di acara Persami. Suasana mencekam, gelap dan sunyi. Di ruangan ini ngga ada jendela yang mengarah langsung ke luar, maka ketika listrik mati, lagi melek pun rasanya kayak lagi merem saking gelapnya. Untunglah ada sedikit remang cahaya dari layar hape.
"Sini Sita, duduk sini!" Dini menyilakan aku duduk di sebelahnya. Aku duduk, ikut menyimak Mami yang sedang bercerita tentang gangguan-gangguan mistis di rumahnya.
Mami bercerita dengan suara rendah, nyaris seperti bisikan. Bikin indeks keseraman ruangan naik melebihi ambang batas normal.
"..pembantu Mami sering tuh digangguin. Pernah waktu itu dia lagi mandi, terus tiba-tiba ada suara orang bisik-bisik di telinganya. Was wes wos gitu.."
Hening. Semua nampak serius menyimak Mami.
"Adek Mami malah ngeliat, sosoknya gede, berbulu, badannya kurus sampai bentuk tulangnya keliatan. Pas adek Mami lagi tidur, itu makhluk iseng ngedudukin adek Mami!"
Di tengah cahaya yang temaram, tampak raut-raut wajah yang menegang. Beberapa mencengkeram lengan teman sebelahnya.
"Bokapnya Mami juga. Lagi di dapur. Tiba-tiba aja muncul p***ng di depannya. Ngga cuma satu lagi. Tiga!!!!"
(Catatan : btw paham kan yah p***ng yang aku sensor maksudnya apa. Yang jelas bukan pisang. Di lingkungan teman-temanku, ada kecenderungan untuk menyamarkan nama-nama penghuni dunia sana karena kami manusia-manusia bernyali sebesar upil dibelah tujuh punya ketakutan untuk menyebut namanya. Takut mereka berasa dipanggil. Awalnya p***ng kita samarkan jadi Mr. P, tapi temanku bilang sebutan Mr. P udah dipake duluan sama Dokter Boyke buat hal lain. Takut ambigu. Jadi ya sudah, kusensor aja.)
Macam api yang makin dikipas makin besar, serupa itulah Mami bercerita. Wajah ngeri tegang penyimaknya membuat cerita Mami makin lama makin seru dan dramatis, bikin bulu kuduk berdiri lebih tegak dari pasukan pengibar bendera pas tujuh belasan di Istana Negara.
Mendengar cerita Mami, perasaanku lama kelamaan mulai ngga enak. Aku bergidik, ngga nyaman dengan suasana di sini. Demi kesehatan jiwa dan keselamatan rohaniku, akhirnya aku putuskan untuk kabur, kembali ke ruanganku sendiri.
Malamnya, aku nyesel karena ninggalin cerita Mami. Nyesel. Kenapa ngga ninggalin lebih awal????? Sensasi ngerinya masih tertinggal di perasaan. Mensugesti suasana sehingga aura kamar serasa jadi lebih mencekam. Malam jadi meresahkan. Rasanya ingin cepat-cepat jatuh tidur biar cepat-cepat malam berubah pagi. Tapi yang terjadi justru kebalikannya. Aku ngga bisa tidur.
Aku ngelihat jam. Udah hampir jam setengah 1. Ngga bisa gini terus. Besok aku masih harus bangun subuh dan kerja. Aku harus tidur. Maka demi kantung mata tidak menebal macam bapak mantan presiden yang sudah mengeluarkan banyak album, aku memutuskan untuk ngungsi tidur. Aku bawa selimut dan hape lalu pindah tidur sama Mamah. Hape aku taro di meja deket kasur supaya kedengeran kalau alarmnya bunyi. Ngga berapa lama, akhirnya aku bisa tidur.
"...andaikan detik itu (aaaa) kan bergulir kembali (aaaa).."
Sayup-sayup di tengah tidurku aku mendengar suara lantunan lagu Ada Band. Aku kebangun dan ngelihat jam. Jam 3 lebih. Jam segini suara lagu dari mana sih? Orang makan krabby patty jam 3 pagi aku bisa maklum, lah nyetel musik?
Awalnya aku kira itu suara tivi yang sedang ditonton kakak iparku. Dia memang suka kebangun larut malam dan nonton tivi sebentar sebelum lanjut tidur lagi. Tapi kayaknya bukan dari tivi. Suaranya kenceng soalnya, deket banget. Aku pun coba mencari dari mana sumber suara.
Ketemu.
Aku menelan ludah.
Suaranya berasal dari hapeku yang tergeletak manja di meja. Iya, dari hape. Hape yang ngga berbunyi sama sekali sebelum aku tidur. Hape yang tiba-tiba mp3-nya nyala sendiri jam 3 pagi. Iya. Mp3. Nyala. Sendiri.
MP3. NYALA. SENDIRI.
Sialan.
Dari sekian banyak peserta uji nyali yang ikut kenapa isengnya ke mari sih??
Minggu, 20 September 2020
Favorite Movie
Sabtu, 19 September 2020
Single and Happy
Kamis, 17 September 2020
Places I Want to Visit
Rabu, 16 September 2020
Memory
Selasa, 15 September 2020
Things That Makes Me Happy
Senin, 14 September 2020
Aku dan Dendam
Senin, 22 Juni 2020
Yang Lagi Makan Jangan Baca Dulu!
Di kantorku yang dulu, manusia-manusianya dibagi menjadi dua kubu. Pembagian kubu ini ditentukan bukan dari tingkat jabatan, derajat pemasukan, ukuran pendidikan, asal kesukuan, ataupun anutan kepercayaan. Sama sekali bukan. Kubu-kubu ini dibagi berdasarkan intensitas aktifitas pencernaan, yaitu kubu jarang boker serta kubu sering boker.
Penganut kubu jarang boker cenderung chill dan santai. Hidup nrimo, ngga neko-neko. Whatever will be, will be. Mereka ngga suka memaksakan keadaan, sebagaimana mereka ngga pernah memaksakan aktivitas pencernaannya sendiri. Ngga mules ya ngga usah maksain boker. Semua akan datang pada waktu yang tepat, termasuk rasa mules. Begitu prinsipnya.
Berlainan dengan kubu seberang, kubu sering boker memiliki sebuah pedoman hidup bahwa boker adalah kunci ketenangan batin. Boker bukan sekadar proses pelepasan residu sisa pencernaan, melainkan ritual wajib yang kalau satu hari aja ngga dilakukan, jiwa dipenuhi kegelisahan. Belum ada dorongan? Ya paksakan. Pancing pake pepaya, sayuran, atau denger Barbie Kumala nyanyi live. Secara sifat, mereka cenderung keras dan ambisius. Ngga ada kompromi. Mau ya harus. Titik.
Karena prinsip hidupnya itulah kubu sering boker cenderung memandang rendah kubu jarang boker. Boker ngga rutin tiap hari itu rasanya hal yang hina sekali, lebih hina dari orang yang diajak patungan jajan ngga mau, tapi pas makan ikutan. Paling banyak pula. Bagi mereka, segala permasalahan hidup itu bersumber dari satu akar, yaitu pencernaan yang kurang lancar. Orang-orang dengan emosi mudah tersulut, temperamen lekas naik, dan kesabaran setipis plastik laminating itu bukan karena kurang piknik, tapi karena kurang boker.
Ada orang ngutang tapi pas ditagih galakan dia? Pasti lagi sembelit!
Ada pasangan ketauan selingkuh tapi malah dia yang marah-marah? Pasti sedang konstipasi!
Ada pemotor lawan arah pas keserempet mobil malah dia yang nyolot? Pasti kurang makan sayur!
Aku sendiri masuk ke dalam kubu susah boker. Kasta terbawah pula, yang kesenjangan waktu antar bokernya paling jauh. Sedih. Sapaan yang kadang kuterima dari kubu sebelah bukanlah "halo", "hai", atau "selamat pagi" seperti sapaan normal pada umumnya, melainkan pertanyaan, "udah ngga boker berapa hari lu?". Kabar bokerku lebih mengundang tanya dibanding kabarku secara keseluruhan.
Curhat pada mereka pun kadang bukannya dapat solusi tapi ujung-ujungnya malah penghakiman atas kinerja ususku yang bagi mereka di bawah standar. Seperti saat aku curhat pada salah satu petinggi teratas kubu sering boker tentang hubunganku dengan (mantan) pacar yang sedang kurang baik. Tiba-tiba aja dia ngilang ngga ngasih kabar, kayak karyawan resign mendadak.
Alih-alih pukpuk di pundak, respon yang kuterima adalah "Lu jarang boker sih, dia ilfeel kali". Saat itu juga baru aku tau cinta bisa diukur dari intensitas boker pasangan.
Atau waktu aku harus operasi usus buntu karena usus buntuku bengkak. Saat kembali masuk kantor, yang kuterima bukan ucapan simpati beserta sekeranjang buah, tapi (lagi-lagi) petuah perbokeran.
"Kak Sita kan jarang boker, itu gara-gara tai yang ngga keluar kali tu, dia numpuk, terus ada yang nyangkut di usus buntu, makanya dia bengkak".
Seketika kenangan usus buntu kemarin berkelebat di kepala. Ya Tuhan, segala kesakitan yang aku rasakan sampai harus dioperasi, luka jaitan yang nyerinya bikin bersin aja jadi derita, masa iya gara-gara seonggok tai? Nista banget kayaknya jarang boker. Kalau gini aku mau pindah kubu aja dah rasanya!
Nb: Ini sebenarnya tulisan lama yang dari dulu kusimpan doang di draft. Tiap mau posting ragu-ragu gitu, karena ceritanya yang agak jorok takut mencoreng citraku sebagai wanita anggun, elegan, dan berkelas. Namun setelah kini kupikir-pikir boker kan manusiawi ya, seanggun dan secantik Yoona SNSD pun pasti boker juga. Yakan punya usus. Cuman yang kita ngga tau, Yoona masuk kubu mana ya dia?
Kamis, 04 Juni 2020
(Fiksi) Dunia Aladita - 5
Kamis, 21 Mei 2020
(Fiksi) Dunia Aladita - 4
Rabu, 20 Mei 2020
(Fiksi) Dunia Aladita - 3
Selasa, 19 Mei 2020
(Fiksi) Dunia Aladita - 2
Senin, 18 Mei 2020
(Fiksi) Dunia Aladita
Rabu, 06 Mei 2020
Cinta yang Dewasa
Lumrah. Bukan karena ada pihak yang salah atau ada hal yang bermasalah. Memang terjadi secara alamiah. Waktu dan keterbiasaan memudarkan debar dan getar tanpa tersadar. Percikan tak memercik selamanya. Terang kembang api hanya sejelalat, nyala api unggun hanya sesaat, pijar puntung rokok hanya sekilat. Segala yang membara akan menemui padam. Semua gelora akan mereda jadi temaram. Segenap yang berharga akan terdepresiasi, seperti nilai aset pada pencatatan akuntasi.
Bukan karena cinta sudah tak lagi di sana. Tidak, cinta tidak hilang. Kupu-kupu dalam perut mungkin sudah pergi entah ke mana, tapi cinta masih turut menyerta. Cinta tetap ada, hanya berubah saja wujudnya. Dia tumbuh mendewasa seiring waktu menuakan usia. Bukan lagi berupa asmara remaja yang penuh romansa. Bukan lagi tentang rasa berbunga-bunga dalam dada. Bukan lagi tentang sipu malu-malu saat perlahan jemari mendekat dan bertemu. Bukan lagi tentang mata yang kesulitan menutup di waktu tidur karena jantung terlalu kencang berdegup mengingat saat bibir saling mengecup.
Cinta berubah, menjadi keinginan untuk terus bertahan meski kenyataan tak lagi menampilkan hal yang indah-indah saja.